Menanti Kontribusi, Bukan Ledakan Emosi

Monday, March 30, 2015

Sriwijayafc.info - Indonesia Super League (ISL) 2015 belum juga dimulai, salah satu pemain Sriwijaya FC (SFC), yakni Patrich Wanggai berhasil menarik perhatian. Bomber yang musim lalu bermain di Liga Malaysia tersebut secara mengejutkan memukul pemain Porprov Kota Palembang, Untung Wibowo saat laga ujicoba. Akibatnya Untung Wibowo harus mendapatkan perawatan intensif karena tulang hidungnya retak.

Ulah negatif  yang ditunjukkan Patrich Wanggai tentunya patut mendapatkan perhatian serius. Pasalnya pemain bernomor punggung 88 tersebut belum juga menunjukkan kontribusi maksimal bersama SFC. Bisa jadi ledakan emosi Patrich Wanggai berawal dari rasa frustasi Patrich Wanggai yang tidak kunjung menunjukkan permainan terbaiknya bersama SFC.

Saat bermain di Liga Malaysia musim lalu, Patrich Wanggai juga sempat berulah dengan wasit ketika laga T-Team melawan Perak FC di Stadion Sultan Ismail. Berdasarkan pengakuan Patrich Wanggai, ia melakukan perbuatan tidak terpuji terhadap wasit karena berulang kali diprovokasi dengan kata-kata kasar dan tidak senonoh. Bahkan menurut Patrich Wanggai ia kerap mendapatkan provokasi wasit di Liga Malaysia ketika itu.

Sebenarnya pada tim SFC tidak hanya Patrich Wanggai yang patut mendapatkan perhatian lebih terkait kontrol emosi. Selain Patrich Wanggai, SFC juga memiliki Ferdinand Sinaga dan Titus Bonai yang kerap dicap sebagai pemain yang bengal karena ulahnya. Menariknya ketiga pemain tersebut merupakan bomber SFC yang diharapkan kontribusi golnya untuk SFC.

Musim lalu saat berseragam Persib Bandung, Ferdinand Sinaga memang berhasil menjadi pemain terbaik Indonesia Super League (ISL) 2014 dengan 12 gol. Namun pencapaian gol Ferdinand juga berbanding lurus dengan perolehan kartu yang ia terima. Musim lalu Ferdinand berhasil mengoleksi 6 kartu kuning dan satu kartu merah. Begitu pula dengan Titus Bonai yang musim lalu berseragam Persipura Jayapura. Titus Bonai hanya berhasil mencetak dua gol dan mendapatkan dua kartu kuning. Pencapaian kartu yang cukup tinggi bagi pemain depan.

Sedikit berbeda dengan Patrich Wanggai, kedua pemain terakhir sudah menunjukkan kontribusinya bagi SFC lewat gol yang diciptakan pada kompetisi pra musim. Namun begitu, pendukung SFC tentunya akan sangat menantikan ledakan gol ketiga bomber tersebut saat kompetisi sebenarnya, ISL 2015 dimulai. Bukan ledakan emosi yang bisa membuat kerugian bagi tim SFC. Ya, ketiga bomber SFC tersebut harus mampu mengendalikan emosinya untuk membuktikan kualitasnya pada pendukung tim SFC.

Teringat ucapan mantan pelatih Sriwijaya FC (SFC), Kas Hartadi yang berhasil mengantarkan SFC juara Indonesia Super League (ISL) 2012. Pelatih asal Solo tersebut menyebutkan bahwa tingkah laku adalah hal yang utama pada tim SFC saat itu. Menurut Kas Hartadi ketika itu, pemain dengan kemampuan bermain bola yang baik tanpa diimbangi dengan perilaku yang baik tidak akan mendapatkan tempat di SFC.

Salah satu pemain yang kerap mendapatkan cap "bengal", seperti Hilton Moreira berubah drastis perilakunya ketika bersama SFC. Hilton Moreira lebih bisa menjaga emosinya di lapangan yang tentu saja membuat permainannya juga menjadi lebih baik dan berkontribusi banyak terhadap gelar juara ISL 2015. Selama dua musim berkostum SFC, Hilton berhasil menyumbangkan 26 gol untuk SFC. Hal yang diharapkan bisa terjadi juga pada Ferdinand, Titus Bonai, dan tentu saja untuk Patrich Wanggai yang telah memukul KO Untung!

Tanggapan Pendukung SFC Tentang Polekmik ISL 2015

Tuesday, February 24, 2015

Sriwijayafc.info - Polekmik PSSI, BOPI, dan Kemenpora RI yang menyebabkan Indonesia Super League (ISL) 2015 sempat tidak jelas nasibnya. Kompetisi yang sedianya dijadwalkan dimulai pada 20 Februari 2015, ditunda oleh BOPI dan Kemenpora menjadi 4 Maret 2015. Namun akhirnya ketiga pihak yang berpolekmik sepakat ISL 2015 digelar pada 4 April 2015.


Beragam komentar keluar dari pendukung klub peserta ISL 2015 terkait polekmik ISL 2015. Pendukung klub Sriwijaya FC (SFC) salah satunya banyak menyuarakan komentar bernada protes hingga putus asa terkait nasib ISL 2015. "Mending sekalian 17 Agustus," tulis salah satu pendukung SFC, Agung Riyanto melalui akun twitter @SYNYAgung ketika menanggapi informasi ISL 2015 dimulai 4 April 2015.

Senada dengan Agus Riyanto, Bagus Surya melalui akun twitter @DenAbham menyarankan agar ISL 2015 dimulai bulan Agustus. "Mending mulai bulan agustus, jadi bisa bareng EPL," tulis Bagus Surya.

Dilain pihak, Eddy Ismail sebagai Ketua Umum Sriwijaya Mania, salah satu kelompok supporter SFC menuturkan kekecewaanya terhadap penundaan ISL 2015. Menurutnya klub ISL 2015 banyak yang rugi akibat penundaan ISL 2015, mulai dari kontrak pemain hingga jadwal latihan. "Kita sangat kecewa dengan diundur-undur terus jadwal ISL. Kita berharap polekmik mengenai ISL 2015 segera berakhir dan tidak berkelanjutan agar tidak disanksi FIFA," ungkap pria yang akrab disapa Eddy Gonjing ini (24/02).

Kekhawatiran yang sama juga muncul dari Muhammad Wira yang khawatir Indonesia dijatuhi sanksi oleh FIFA karena polekmik ISL 2015. Menurut Wira walaupun ISL 2015 direncanakan digelar 4 April 2015, belum tentu juga terlaksana dan rasanya akan berbeda. "Cugak! berbulan-bulan menunggu ternyata pending," keluh Wira (24/02).

SFC Hendaknya Contoh Persip

Friday, February 13, 2015


InfoSriwijayaFC - Sebuah foto menarik beredar di sosial media, yakni foto capture mengenai pengumuman hasil penjualan tiket pertandingan Persip Kota Pekolangan vs Persija Jakarta. Foto yang jika dilihat sekilas tidak menarik, namun memiliki arti yang sangat besar. Salah satunya mengenai transparansi kepada publik dalam sepakbola.


Foto yang beredar tersebut berisikan jumlah tiket yang dicetak, yang terjual, dan hasil penjualan oleh panitia pelaksana (panpel) pertandingan Persip Kota Pekalongan. Selain itu juga terdapat jumlah penonton yang masuk tanpa membayar.

Laporan hasil penjualan tiket pertandingan Persip vs Persija
Sebuah langkah yang patut dicontoh oleh klub Sriwijaya FC (SFC) sebagai salah satu klub yang beranjak menjadi klub profesional. Pemaparan hasil penjualan tiket bisa menjadi salah satu langkah kecil dari manajemen SFC untuk mendekatkan diri kepada pendukung SFC. Langkah kecil yang bisa semakin menumbuhkan kecintaan dan dukungan dari publik SFC.

Pemaparan hasil penjualan tiket juga bisa menjadi langkah untuk mendukung transparansi dalam sepakbola karena selama ini masalah keuangan klub SFC masih jarang tersentuh oleh publik. Hanya kalangan terbatas saja yang mengetahui keadaan keuangan klub SFC, padahal SFC dianggap sebagai milik publik. Tentunya tidak salah jika pendukung SFC, khususnya masyarakat Sumatera Selatan yang dianggap pemilik bersama SFC berharap transparansi penjualan tiket pertandingan SFC.

Langkah Direktur Pemasaran dan Promosi PT Sriwijaya Optimis Mandiri (PT SOM), Nirmala Dewi yang memilih untuk mengelola sendiri tiket pertandingan SFC adalah sebuah langkah awal yang patut diapresiasi. Pengelolaan sendiri tiket pertandingan SFC dapat mengurangi harga tiket tanpa mengurangi keuntungan bagi pihak manajemen SFC.

Dalam suatu kesempatan, Nirmala Dewi mengatakan bahwa peluang bocornya tiket pertandingan kandang SFC tetap ada karena banyaknya pintu masuk Stadion Gelora Sriwijaya. Peningkatan keamaanan saat masuk pertandingan tentunya merupakan cara yang dianggap paling ampuh. Kembali tidak ada salahnya manajemen SFC memaparkan kepada publik informasi hasil penjualan tiket demi transparansi dan menghimbau kepada publik untuk membeli tiket pertandingan SFC melalui media yang dimiliki oleh SFC, seperti halnya yang dilakukan oleh Persip Pekalongan. Bukankah SFC milik kita bersama?

Refleksi Sembilan Tahun Sriwijaya FC

Thursday, October 24, 2013

InfoSriwijayaFC - Sriwijaya FC (SFC) resmi berusia sembilan tahun pada 23 Oktober 2013. Berdiri sejak 23 Oktober 2004, klub berjuluk Laskar Wong Kito tersebut telah mengoleksi banyak gelar juara, diantaranya adalah dua gelar juara Liga Indonesia, tiga gelar juara Piala Indonesia, juara Comunity Shield, juara Inter Island Cup, dan juara Liga Indonesia U-21.

Pasang surut prestasi dan dinamika dalam seluruh elemen di SFC menjadi kisah perjalanan panjang untuk diceritakan. Berawal dari takeover Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terhadap klub Persijatim FC, Provinsi Sumsel resmi memiliki klub kebanggaan untuk berlaga di kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia. SFC yang dulu perjalanannya berawal dengan perjuangan yang berat, pertandingan di kandang sendiri bukanlah jaminan untuk memenangkan pertandingan dengan mudah. Kekalahan telak atau kemenangan tipis yang diraih dengan susah payah menjadi kisah yang kerap terjadi dalam laga SFC ketika itu. Dua kali terancam terdegradasi, dua kali pula SFC selamat.

Kisah perjalanan SFC mulai berubah pada musim kompetisi 2007/2008. SFC yang pada tiga musim sebelumnya masih dianggap anak bawang dan dianggap sebelah mata langsung menggebrak. Tidak tanggung-tanggung, SFC langsung menciptakan rekor sebagai klub pertama di Indonesia yang berhasil meraih gelar ganda dalam satu musim. Ketika itu kondisi seluruh elemen di SFC terlihat sangat kondusif dan SFC belum menjadi perhatian banyak media seperti sekarang, sehingga akalaupun ada permasalahan tidak menjadi konsumsi orang banyak. Keuangan SFC pun relatif lancar karena ketika itu klub sepakbola masih diperkenankan menggunakan dana APBD.

Seiring perjalanan waktu, kini SFC harus mandiri tanpa menggunakan APBD. Sebuah tantangan bagi manajemen SFC. Dalam tiap musim SFC rata-rata SFC menghabiskan dana 35 miliar untuk satu musim kompetisi. Dana yang tidak kecil untuk sebuah klub yang jumlah pendukungnya naik turun dalam setiap laga kandang. Kembali tantangan bagi manajemen SFC untuk meningkatkan animo pendukung SFC untuk datang langsung. Beberapa penyebab animo penonton rendah untuk datang langsung ke stadion adalah sulitnya angkutan umum menuju Stadion Gelora Sriwijaya dan masalah keamanan karena sering terjadi kriminalitas.

Manajemen SFC sebagai pengelola SFC diharapkan dapat meningkatkan prestasi SFC dan membuat Stadion Gelora Sriwijaya nyaman bagi pendukung SFC. Dengan itu dukungan pendukung SFC kepada SFC akan menjadi maksimal dan sedikit banyak akan berbanding lurus dengan prestasi SFC.

Diusia SFC yang kesembilan ini semoga SFC smeakin berprestasi dan makin baik kedepannya. Semoga seluruh elemen di SFC, mulai dari manajemen, pelatih, pemain, hingga pendukung SFC dapat semakin kompak demi kemajuan SFC.

DIRGAHAYU SRIWIJAYA FC !!!

Kisah Ferry dan Gumbs

Friday, October 18, 2013

InfoSriwijayaFC - Status facebook seorang teman menjadi inspirasi dalam penulisan tulisan ini. Ia mempertanyakan mengapa pendukung Sriwijaya FC (SFC) hanya terfokus pada permasalahan Ferry Rotinsulu, padahal masih banyak permasalahan yang lebih besar dan penting demi kemajuan SFC. Masalah keuangan merupakan salah satu masalah yang patut diperhatikan serius oleh seluruh elemen SFC.

Ferry Rotinsulu memang tidak bisa dipungkiri merupakan salah satu pemain dengan banyak kontribusi di SFC. Sebagai satu-satunya pemain yang kini paling lama memperkuat SFC, Ferry bisa dianggap sebagai icon SFC. Banyak prestasi yang telah Ferry Rotinsulu persembahkan kepada SFC, diantaranya adalah dua gelar juara Liga Indonesia, tiga gelar juara Piala Indonesia, juara Comunity Shield, dan juara Inter Island Cup. Tentunya juga tidak lupa diingatan pendukung SFC bagaimana penyelamatan Ferry saat adu penalti pada beberapa laga penting.

Ferry Rotinsulu kerap dianggap sebagai legenda SFC, sama halnya dengan Keith Jerome Gumbs. Namun seperti yang kita ketahui akhirnya Gumbs dilepas oleh manajemen SFC. Alasannya adalah karena tidak bertemunya kesepakatan mengenai nilai kontrak. Dilansir laman Sriwijaya Post (04/09/2012), Kayamba menerima keputusan dari manajemen SFC. Kayamba juga mengaku telah memberikan yang terbaik untuk SFC dan masyarakat Sumatera Selatan. "Saya bangga telah membuat masyarakat tersenyum terus karena telah mempersembahkan sembilan gelar selama lima tahun di SFC," ujar Kayamba ketika itu. Hal tersebut juga dilakukan oleh Ferry yang pasrah dengan nasibnya bersama SFC, bahkan beberapa media menyebutkan jika Ferry telah bergabung dengan salah satu klub di Pulau Jawa. Namun kabar tersebut belum ada kepastian karena belum ada pernyataan resmi dari SFC mengenai nasib Ferry.

Berbeda dengan kisah Ferry, dalam kisah pelepasan Gumbs ketika itu tidak ada perlakuan yang begitu "agresif" dari pendukung SFC terhadap lepasnya Gumbs. Padahal secara kontribusi, Gumbs juga memiliki andil banyak terhadap prestasi SFC. Kala itu  juga manajemen yang melepas Kayamba pun tidak jauh berbeda dengan manajemen SFC yang sekarang. Tentunya kita berharap dukungan pendukung SFC terhadap Ferry merupakan dukungan yang tulus dan pendukung SFC yang mendukung Ferry dipertahankan memiliki argumentasi yang kuat terhadap dukungan yang diberikan. Bukan hanya ikut-ikutan karena emosi buta semata atau provokasi terhadap suatu kepentingan. #SaveSFC

SFC Butuh "Pengangkut Air"

Friday, October 11, 2013

InfoSriwijayaFC - Perombakan total yang dilakukan oleh manajemen Sriwijaya FC (SFC) membuat manajemen harus mengulang dari awal menyusun kekuatan untuk menghadapi kompetisi musim depan. Beberapa nama muali dari posisi penjaga gawang hingga penyerang dibidik oleh manajemen SFC. Sebut saja nama Andritany dan Fauzi Toldo diposisi penjaga gawang, Titus Bonai dan Patrich Wanggai diposisi penyerang. Pada posisi lini belakang SFC sendiri mengklaim telah mengamankan tiga pemain, yakni Firdaus Ramadhan, Sumardi, dan seorang pemain asal Liga Prancis.

Jika dilihat dari daftar pemain bidikan SFC, belum ada pemain yang berposisi sebagai gelandang bertahan atau kerap disebut "pengangkut air" yang dibidik oleh SFC. Gelandang bertahan sendiri merupakan salah satu lini vital dalam skema permainan tim. Perannya yang bertugas menjadi tembok pertama pertahanan dan juga bertugas mengalirkan bola saat transisi dari bertahan ke menyerang sangat dibutuhkan dalam tim.

Sejauh ini baru nama Ponaryo Astaman dan Ichsan Kurniawan yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Ponaryo sendiri hingga kini belum ada kepastian akan dipertahankan atau tidak karena masih menunggu rapat evaluasi manajemen SFC. Ichsan yang merupakan pemain jebolan tim SFC U21 masih belum matang untuk diturunkan secara reguler dikompetisi seketat ISL.

Sepeninggal Ahmad Jufriyanto yang dilepas manajemen SFC, SFC masih belum memiliki pengganti yang sepadan untuk posisi gelandang bertahan. Nama yang bisa dimasukkan dalam rekomendasi untuk mengisi posisi "pengangkut air" diantaranya adalah Asri Akbar, Ahmad Bustomi, Hariono, dan Rohit Chand. Asri Akbar dan Hariono menjadi pemain yang cukup berpeluang untuk direkrut karena dengan masuknya Ahmad Jufriyanto ke Persib Bandung, otomatis akan ada pemain yang tergeser. Demikian juga Rohit Chand juga berpeluang untuk direkrut karena belum ada perpanjangan kontrak dari Persija untuk gelandang asal Nepal tersebut. Sedangkan Ahmad Bustomi menjadi pemain dengan peluang terkecil karena sepertinya Mitra Kukar akan tetap menggunakan tenaga pemain asal Malang tersebut.

Bagaimanapun ceritanya, SFC tetaplah membutuhkan pemain dengan posisi gelandang bertahan. Dengan tipikal yang keras, berani beradu fisik, pantang menyerah, stamina yang optimal, dan visi bermain yang bagus maka posisi pemain gelandang bertahan akan menjadi peran yang sangat penting. Dapat kita lihat di luar negeri, Real Madrid yang begitu digdaya kemudian oleng ketika ditinggal pergi oleh Claude Makalele, dapat kita lihat juga Barcelona yang begitu digdaya begitu memperhatikan peran sentral gelandang bertahan yang diisi oleh Sergio Busquets, atau Manchester United yang berjaya bersama Roy Keane di posisi gelandang bertahan. Peran gelandang bertahan begitulah penting, namun begitu tidak jarang terlupakan karena perannya tidak begitu terlihat seperti halnya penyerang yang mencetak gol, penjaga gawang dengan penyelamatan gemilang, ataupun gelandang serang dan pemain sayap dengan kreasi golnya.

Untuk itu manajemen SFC jangan terlena untuk mendatangkan pemain dengan nama besar, namun belum tentu sesuai dengan kebutuhan tim. Jangan sampai lupa mengisi pemain dengan posisi sentral seperti gelandang bertahan dengan pemain yang benar-benar berkualitas.

Manajemen SFC Jangan Lupa Kewajiban

Tuesday, October 1, 2013

InfoSriwijayaFC - Kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2012/2013 telah berakhir. Sriwijaya FC (SFC) sebagai salah satu kontestan hanya berada diurutan kelima klasemen akhir ISL 2012/2013. Menuju kompetisi ISL musim 2013/2014, jajaran manajemen SFC langsung bersiap diri untuk mempersiapkan tim. Target juara dimusim depan sudah dipasang, demikian juga nahkoda anyar tim berjuluk Laskar Wong Kito tersebut telah ditunjuk, yakni Subangkit. Pemain incaran mulai didekati untuk bergabung memperkuat SFC musim depan.

Suatu rencana dan harapan yang bagus telah dilaksanakan oleh manajemen SFC untuk menyongsong musim depan. Namun sebagai pendukung setia SFC, kita patut bertanya apakah persoalan klasik SFC mengenai tunggakan sisa down payment (DP) dan gaji pemain yang belum dibayar telah selesai dan dibayarkan?

Manajemen SFC hendaknya tidak terlena dengan persiapan untuk musim depan, demikian pula pendukung SFC jangan terbuai dengan harapan manis juara, nama besar pemain incaran, dan hal-hal manis lainnya. Masih banyak yang perlu diperbaiki dari SFC musim depan, terutama permasalahan kewajiban manajemen SFC untuk membayarkan hutang kepada jajaran tim SFC musim lalu.

Sangat miris rasanya mendengar jika beberapa nama pemain besar di ISL berhasil diboyong ke Palembang, namun hak pemain SFC musim lalu belumlah dibayarkan, padahal secara administrasi kontrak mereka sudah berakhir. Sangat lucunya lagi adalah, DP yang harusnya dibayarkan pada awal musim hingga akhir musim belum dibayarkan. Dalam kehidupan masyarakat, DP yang kerap disebut uang panjar merupakan uang tanda jadi dan harus lunas sebelum seseorang melakukan kewajibannya. Dalam hal ini adalah kewajiban sebagai pemain, bermain dengan maksimal.

Harapan kita bersama SFC tidak lupa akan kewajiban sebagai klub yang harus membayar hak pemain, pelatih, dan official. Percuma rasanya ketika klub mempunyai banyak prestasi dan mengklaim sebagai klub yang profesional, namun tidak memenuhi hak pemain, pelatih, dan official sesuai dengan ketentuan kontrak. Dimanakah letak klaim sebagai klub profesional tersebut jika melakukan pembayaran gajipun belum profesional.

SFC butuh orang yang mengerti bola, peduli, dan rela berkorban. Bukan hanya peduli tetapi tidak mengerti apa itu sepakbola. Bukan hanya hanya berani berkorban tetapi tidak sadar jika sepakbola adalah olahraga yang menjunjung sportifitas. Sportifitas dalam pembayaran hak dan kewajiban adalah salah satunya!

Pahlawan Tersembunyi Dari Palembang

Monday, September 23, 2013

InfoSriwijayaFC - Saya merasa kesal dengan pernyataan bahwa kami masyarakat Kota Palembang tidak nasionalis hanya karena membiarkan stadion sepi ketika tim nasional sepakbola Indonesia bertanding. Jika kami dinyatakan tidak nasionalis karena tidak mendukung tim nasional Indonesia bertanding, maka sepantasnya mereka yang mengeluarkan pernyataan tersebut, introspeksi terlebih dahulu. Berarti mereka juga tidak nasionalis karena hanya mendukung tim nasional sepakbola Indonesia bertanding, melalui siaran langsung di televisi.

Ketika kita mencoba mengajukan pernyataan yang sama, maka sangat besar kemungkinan bahwa mereka tidak mau disalahkan. Mereka akan mengeluarkan pernyataan tentang alasan-alasan mengapa mereka tidak berada di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, ketika tim nasional sepakbola Indonesia bertanding. Intinya, mereka hanya mau menyalahkan orang lain tanpa mau disalahkan. Padahal, dalam kenyataannya, mereka sama dengan kami masyarakat Kota Palembang yang disalahkan. Ironis sekali.

Saya meyakini bahwa masyarakat Kota Palembang, mempunyai keinginan untuk mendukung tim nasional sepakbola Indonesia. Tetapi tentunya perlu kita ketahui bahwa, tidak semua masyarakat Kota Palembang menyukai cabang olahraga sepakbola. Masyarakat Kota Palembang, menyukai berbagai macam cabang olahraga, mulai dari bulu tangkis, bola basket, tenis, dan cabang olahraga yang lainnya. Tentunya, masing-masing cabang olahraga membawa nama baik Indonesia dan masyarakat Kota Palembang mendukung tim nasional dari cabang olahraga tersebut.

Selain memiliki kesukaan terhadap cabang olahraga yang berbeda-beda, dipercaya menjadi panitia pelaksana Islamic Solidarity Games yang ketiga pada tahun 2013 ini, juga turut menjadi salah satu faktor mengapa Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, tidak terlalu ramai ketika tim nasional sepakbola Indonesia bertanding.

Masyarakat Kota Palembang dan daerah lainnya yang menjadi panitia pelaksana Islamic Solidarity Games, tentunya mempunyai tanggung jawab yang besar dan membawa nama baik Indonesia. Mereka mulai bekerja sejak jam enam pagi, sampai dengan jam sepuluh malam atau bahkan lebih. Mereka membawa nama baik Indonesia. Mereka merupakan Pahlawan Indonesia. Mereka adalah Pahlawan Tersembunyi, namun hasil kerja mereka dalam menyukseskan Islamic Solidarity Games, sangat membuat bangga utusan dari berbagai negara yang hadir di Kota Palembang.

Saya sempat berbincang dengan utusan dari negara Turki, Palestina, dan Mesir. Mereka semua menyatakan sebuah pendapat yang sama, mereka puas atas pelaksanaan Islamic Solidarity Games pada cabang olahraga yang mereka ikuti. Masyarakat Indonesia dipandang oleh mereka sebagai manusia yang sangat ramah, sopan, dan baik hati. Sedangkan dalam kategori tim nasional, pimpinan utusan Turki menyatakan bahwa permainan bola basket Indonesia dan terkhusus tim putri, bermain sangat luar biasa. Medali emas yang didapatkan, memang sangat pantas untuk didapatkan.

Tentunya, tidak pantas bagi kita untuk mengeluarkan pernyataan tanpa menganalisis berbagai informasi terlebih dahulu dan kemudian mengolah berbagai informasi tersebut. Mari, mulai saat ini kita cerdas dalam mengeluarkan pernyataan. Sangat disayangkan kalau kita menyatakan orang lain tidak nasionalis, padahal kita tidak mengerti arti dari nasionalis. Sementara orang yang kita tuduh atau kita pertanyakan nasionalisme mereka, ternyata sejak pagi hingga malam hari, bekerja untuk menjaga nama baik Indonesia.

Oleh : Oyong Sikumbang
*) Pengamat olahraga Sumatera Selatan

Sepakbola Memang Kejam

Friday, August 30, 2013

InfoSriwijayaFC - Sepakbola memang kejam, tidak peduli apa yang pernah dilakukan. Prestasi dimasa lalu terkadang tidak cukup untuk menebus kesalahan yang sekarang diperbuat. Gelar juara dan permainan gemilang dimasa lalu tidak mampu untuk menepis rasa sakit kegagalan yang sedang terjadi.

Sudah banyak contoh dan bukti jika sepakbola memang kejam dan terkadang tidak tahu terimakasih dengan jasa yang telah dilakukan. Di luar negeri kita bisa melihat salah satunya adalah Jose Mourinho sebagai contoh. Sekarang ia berada di Chelsea, kembali mencoba mengukir nostalgia indah. Sebelumnya ia pernah dipecat di Chelsea karena tidak bisa mempersembahkan gelar juara Liga Champions, padahal banyak gelar juara yang sudah ia persembahkan untuk Chelsea. Salah satunya adalah gelar juara Liga Inggris tahun 2004 untuk pertama kalinya bagi Chelsea dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.

Contoh lainnya di Chelsea adalah Roberto Di Matteo yang juga dipecat, padahal belum setahun ia mempersembahkan gelar Liga Champion bagi Chelsea. Gelar yang begitu diimpikan oleh Roman Abramovic, sang empunya Chelsea. Roberto Mancini di Manchester City dan Kenny Daglish di Liverpool menjadi contoh lain yang dipecat usai meraih gelar juara.

Di Liga Indonesia kita bisa melihat Suimin Diharja di Sriwijaya FC (SFC) yang berhasil menyelamatkan SFC dari jurang degradasi. Demikian pula Rahmad Darmawan, pelatih legendaris di SFC yang berhasil mempersembahkan Double Winners bagi SFC dan tentu saja hattrick Piala Indonesia. Rahmad juga "dilepas" oleh SFC, padahal jika melihat prestasi menterengnya, tidak ada alasan teknis yang kuat untuk melepas pelatih yang kerap disapa RD tersebut.

Sepakbola memang kejam, tidak tahu terimakasih untuk sebuah alasan profesional. Kemenangan beruntun sepuluh kali akan hilang tak berarti ketika terjadi satu kali kekalahan memalukan dan menyakitkan itu terjadi. Pujian yang selalu terucap dengan manis bisa berubah seketika menjadi caci maki dan hinaan yang sadis. Sepakbola memang tidak akan pernah sempurna dan tidak menuntut sebuah kesempurnaan, tetapi sepakbola selalu menuntut yang terbaik.

Hilangnya Motivasi

Thursday, August 29, 2013

InfoSriwijayaFC - Sriwijaya FC (SFC) kembali menelan kekalahan di kandang sendiri ketika menjamu Persisam Samarinda, Kamis (29/08). Dihadapan ribuan pendukung setianya, SFC harus menelan pil pahit dikalahkan oleh Persisam dengan skor telak 1-3. Rentetan hasil negatif tersebut memperpanjang rekor buruk SFC dimusim ini, sebelumnya SFC juga pernah dipermalukan Persepam di kandang sendiri dengan skor telak 0-4.

Banyak yang perlu dievaluasi ditubuh SFC saat ini, salah satunya motivasi bermain punggawa SFC. Dalam beberapa pertandingan terakhir SFC, motivasi bermain punggawa SFC terlihat sangat rendah. Belum lagi permainan SFC yang terlihat tidak mempunyai pola yang jelas, layaknya SFC pada musim lalu dengan ciri khas satu dua sentuhan. 

Kembali ke motivasi bermain punggawa SFC, tentu mengundang misteri apa yang penyebab begitu rendahnya motivasi punggawa SFC. Manajemen SFC cenderung menutup diri mengenai permasalahan apa yang terjadi di dalam tubuh SFC. Entah itu masalah keuangan atau masalah lain kita hanya bisa menerka-nerka.

Salah satu contoh masalah ditubuh SFC adalah masalah keuangan seperti yang banyak diberitakan media seperti Sriwijaya Post dan Palembang Pos, terjadi mogok kerja para official tim SFC yang ternyata gajinya belum dibayarkan selama enam bulan. Kabar terakhir yang beredar, seperti dilansir laman Sriwijaya Post (28/08), gaji official tim SFC tersebut telah dibayarkan separuh.

Mogok kerja yang dilakukan oleh official SFC tersebut jelas sangat mengindikasikan jika saat ini SFC sedang mengalami krisis keuangan. Kalau tidak mengalami krisis keuangan mana mungkin menunggak gaji official selama enam bulan lamanya.

Belum lagi banyaknya koar-koar dari jajaran manajemen tim SFC, yang ingin melakukan perombakan pemain dan menyebutkan nama pemain yang akan direkrut. Saya sendiri sebagai pribadi jika berada dalam posisi pemain tentu akan tidak nyaman, apalagi jika pemain yang akan direkrut tersebut mempunyai posisi bermain dengan saya. 

Kesimpulannya menurut saya ada baiknya manajemen SFC menjalin komunikasi yang baik dengan jajaran tim SFC, dimulai dari jajaran pelatih, pemain, hingga official. Keterbukaan antar elemen tentu akan menghasilkan kesepahaman bersama dan kesepakatan untuk kebaikan bersama.

Manajemen SFC hendaknya mengurangi terlalu banyak berbicara melalui media mengenai perekrutan dan perombakan tim SFC karena dapat mengganggu situasi kondusif dalam tim. Sudah banyak bukti banyak pemain yang diklaim akan direkrut malah gagal berseragam SFC karena ditelikung tim lain, seperti Beto, Greg Nwokolo, Hasyim Kipuw, Noh Alamsyah, dan Muhammad Ridhuan.

Masih ada dua laga sisa untuk membuktikan jika SFC bisa bangkit dan belajar dari kesalahan. Sebagai pendukung SFC pun kita harus tetap mendukung SFC. Bagaimanapun ceritanya, kita pernah merasakan kebanggaan bersama SFC. Bukankah begitu? Bravo SFC!

Menanti Komitmen Serius SFC

Monday, August 12, 2013

InfoSriwijayaFC - Manajemen Sriwijaya FC (SFC) kembali mewacanakan akan memaksimalkan potensi pemain lokal asal Sumatera Selatan (Sumsel) untuk memperkuat SFC dimusim kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2013/2014. Dilansir laman Sriwijaya Post (11/08), Manajer SFC, Robert Heri mengungkapkan jika musim depan SFC akan memberdayakan pemain lokal Sumsel seperti Fauzi Toldo, Amirul Mukminin, dan Septarianto yang kini sukses bermain di klub lain.

Pernyataan yang dikeluarkan oleh Robert Heri tersebut sedikit banyak memberikan angin segar bagi pemain sepakbola asal Sumsel untuk meniti karir bermain diklub kebanggaan Sumsel tersebut. Namun, kenyataannya hingga kini masih sulit merealisasikan keinginan positif dari SFC tersebut, padahal keinginan tersebut sudah beberapa musim diwacanakan. Sedikitnya dalam dua musim terakhir SFC telah mewacanakan hal tersebut, namun belum ada realisasinya.

Terbukti dari beberapa pemain muda yang ada diskuad SFC, praktis hanya Khoirul Huda dan Rivan Nahumarury yang bisa dikatakan berkembang positif dan beberapa kali mendapatkan kesempatan bermain. Tercatat hingga pertandingan ke-30 SFC di ISL musim 2012/2013, Huda telah bermain sebanyak 214 menit, sedangkan Rivan 36 menit. Menit bermain yang cukup banyak untuk ukuran pemain muda.

Lain dengan Khoirul Huda dan Rivan, beberapa pemain asal Sumsel maupun dari SFC-U21 seperti Muhammad Shobran, Rizki Dwi Ramadhan, Cristian Rotinsulu, Rizki Noval Al Katiri dan Makhrus Avif kurang mendapatkan kesempatan bermain ditim senior SFC. Belum lagi nama-nama pemain muda lainnya yang sejak beberapa musim terakhir digadang-gadang akan menjadi penerus pemain senior SFC, namun akhirnya hilang ditengah hingar bingar euforia juara SFC musim lalu. Ntah kualitas yang belum memadai atau memang pelatih belum percaya, tetapi memang sudah seharusnya mereka diberikan kesempatan untuk membuktikan jika mereka bisa.

Jika memang ingin SFC ingin agar skuad SFC diisi pemain muda dan pemain lokal Sumsel, manajemen SFC harus siap membuktikan jika dengan pemain muda dan lokal, SFC masih bisa berprestasi. Jangan sampai wacana pemakaian pemain muda dan lokal Sumsel hanya pemanis diawal dan akhir kompetisi, namun tidak ada upaya serius SFC untuk mewujudkannya. Bagaimanapun warga Sumatera Selatan akan terus menanti ikon SFC yang merupakan putera asli Sumatera Selatan.

Banyaknya pemain senior berkualitas diskuad SFC menjadi salah satu penyebab pemain tersebut kurang termaksimalkan. Namun begitu, walaupun kurang maksimal ditim senior, Rizki Dwi Ramadhan dkk berhasil membuktikan diri diskuad SFC U-21 dengan menembus delapan besar ISL U-21. Potensi yang sangat mubazir jika tidak dimaksimalkan. Bisa saja pemain SFC-U21 kini sudah menjadi incaran klub lain. Jangan sampai SFC gigit jari, karena pemain yang susah payah dibina malah menjadi tulang punggung tim rival. Menyakitkan!

Manajemen SFC Seperti Tidak Belajar Dari Masa Lalu

Wednesday, August 7, 2013

InfoSriwijayaFC - Musim kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2012/2013 akan segera berakhir. Sriwijaya FC (SFC) sebagai salah satu kontestan ISL musim ini menyisakan empat laga sisa, dua di kandang dan dua di tandang. Empat laga diakhir musim ini akan menjadi pertaruhan SFC untuk merebut posisi runner up ISL 2012/2013 setelah posisi puncak telah diraih oleh Persipura dan tidak mungkin mampu dikejar lagi dengan laga yang tersisa.

Selain menjadi pertaruhan untuk merebut posisi runner up, empat laga tersisa tersebut akan menjadi sarana evaluasi bagi manajemen SFC untuk menentukan pemain mana saja yang layak dipertahankan dan mana yang harus dilepas. Beberapa kali komentar dari Manajer SFC, Robert Heri maupun Presiden SFC, Dodi Reza Alex dimedia mengisyaratkan hal tersebut. Bahkan dalam laman Sriwijaya Post dan Palembang Pos, Robert Heri berani menyebut beberapa nama pemain yang diklaim telah menjalin komunikasi dengan SFC dan menjadi bidikan SFC musim depan.

Upaya cepat yang strategis dari manajemen SFC untuk menentukan komposisi pemain SFC musim depan. Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan untuk mempersiapkan kekuatan SFC dimusim depan untuk membentuk tim yang tangguh.

Namun, hal tersebut bisa menjadi bumerang bagi SFC sendiri ketika manajemen SFC terlalu mengumbar pernyataan mengenai evaluasi dan perekrutan pemain dimedia karena dapat mengganggu kondisi kondusif pada tim SFC. Pemain akan merasa tidak nyaman karena merasa posisinya tidak aman lagi di SFC dan bisa merusak rencana SFC untuk meraih posisi kedua ISL 2012/2013.

Belum lagi klaim yang dilakukan oleh manajemen SFC terhadap pemain tertentu juga terkadang bertolak belakang dengan komentar pemain yang dimaksud. Pemain yang diklaim oleh SFC terkadang malah membantah pernyataan pihak SFC dan pemain tersebut malah bergabung dengan tim lain yang notabenya rival SFC. Dari beberapa musim lalu sudah banyak contoh, seperti Beto Goncalves, Osas Saha, Agu Casmir, Noh Alamsyah, Muhammad Ridhuan, dan Alexander Duric yang diklaim akan bergabung dengan SFC malah tidak jadi.

Manajemen SFC sepertinya tidak belajar dari kesalahan yang pernah terjadi dan tetap memilih mengumbar pernyataan kepada media. Diharapkan manajemen SFC belajar dari masa lalu dan tidak terlalu mengumbar pernyataan ke media, apalagi menyangkut kondisi internal tim yang bisa mengganggu kondusifitas tim yang berujung terganggunya performa SFC dipertandingan. Biarlah pendukung SFC penasaran dan menerima kejutan yang manis, dari pada diberi harapan indah namun palsu. Sangat menyakitkan tentunya.

Delapan Pemain Menarik Selama Tujuh Musim

Sunday, July 14, 2013

InfoSriwijayaFC - Tujuh musim klub kebanggaan warga Sumatera Selatan (Sumsel), yakni Sriwijaya FC (SFC) telah mengarungi kompetisi sepakbola di Indonesia, setidaknya dua gelar juara Liga Indonesia dan tiga gelar juara Piala Indonesia telah diraih tim berjuluk Laskar Wong Kito tersebut.

Tidak ada salahnya kita mengamati kembali nama-nama pemain yang pernah memperkuat SFC sejak musim pertama SFC berlaga di Liga Indonesia. Lebih dari 200 nama pemain sepakbola pernah merasakan berkandang di Stadion Gelora Sriwijaya, delapan diantaranya kami anggap sebagai pemain dengan kelebihan dan kemenarikan tersendiri.

1. Ferry Rotinsulu
Penggemar SFC pasti akan mengenal sosok ini, satu-satunya pemain yang paling lama bermain bersama SFC. Banyak godaan dari klub lain yang menggodanya untuk meninggalkan SFC, tetapi semua ditampiknya. Penjaga kelahiran Palu ini mempunyai kelebihan dalam menghadapi tendangan penalti. Terbukti beberapa kali Ferry menggalkan eksekusi penalti lawan saat krusial, diantaranya saat semifinal dan final Piala Indonesia 2007, serta semifinal Piala Indonesia 2010 yang kesemuanya berujung gelar juara untuk SFC.

2. Keith Jerome Gumbs
Sempat diragukan oleh penggemar SFC ketika pertama kali direkrut oleh Rahmad Darmawan, pemain yang akrab disapa Kayamba menjawab keraguan publik SFC dengan torehan gol demi gol yang ciptakan. Tidak sungkan-sungkan, Kayamba langsung menorehkan dua gol saat laga debutnya bersama SFC. Hingga kini menjadi pemain yang melegenda di Liga Indonesia. Torehan 94 gol dari 174 laga bersama SFC menobatkan pemain yang kini memperkuat Arema ini menjadi pencetak gol terbanyak SFC sepanjang sejarah. Musim terakhirnya bersama SFC, yakni musim 2011 merupakan salah satu musim Kayamba dengan gol terbanyak, yakni 22 gol dan bertengger daftar top skor papan atas Indonesia.

3. Zah Rahan Krangar
Zah Rahan adalah salah satu dari sekian banyak legiun asing yang sukses di Indonesia. Selama memperkuat SFC perannya sebagai pemegang komando permainan SFC begitu vital melalui umpan dan pergerakannya nan lincah. Hingga sekarang, mungkin Erick Weeks Lewis yang bisa menggantikan peran pemain asal Liberia ini. Bersama SFC, pemain mungil yang menggunakan nomor 10 ketika bermain untuk SFC ini pernah mencetak gol spektakuler melalui jarak jauh ketika SFC mengandaskan PSMS di laga final Liga Indonesia 2007.

4. Ponaryo Astaman
Ponaryo adalah salah andalan SFC hingga kini, pemain asal Balikpapan ini sudah bermain bersama SFC dari musim 2010 dan hingga kini perannya sebagai jenderal lapangan tenagh SFC belum tergantikan. Permainan nan lugas disertai umpan-umpan mematikan menjadil ciri khas pemain yang kerap disapa Popon ini.

5. Thierry Gathuessy
Thierry adalah salah satu type pemain belakang yang sulit ditemui di Indonesia, walaupun bermain sebagai stopper, Thierry kerap mencetak gol melalui akselerasi yang ia lakukan. Tidak jarang juga umpannya kepada pemain lain berbuah gol. Thierry merupakan salah satu type bek modern, ketika bermain bersama SFC, penjaga gawang SFC sangat terbantu dengan permainan lugas pemain yang juga sering disebut "badak" tersebut.

6. Carlos Renato Elias
Renato merupakan salah satu pemain yang kerap disandingkan bersama Ferry Rotinsulu dan Kayamba sebagai legenda SFC. Kharismanya dalam memimpin Laskar Wong Kito dalam bertarung menjadi poin plus pemain asal Brasil ini. Renato merupakan kapten SFC pertama yang mengangkat gelar juara Liga Indonesia.

7. Andi Oddang Mustamu
Andi Oddang adalah satu dari sedikit penyerang lokal yang menjadi andalan SFC di tengah gempuran pemain asing di Liga Indonesia, duetnya bersama Emeka Okoye menjadi duet andalan SFC ketika awal mengikuti kompetisi Liga Indonesia. Satu hal yang menarik dari pemain yang juga pegawai bank ini adalah rambut yang gondrong. Ada cerita menarik Andi Oddang ketika memperkuat SFC, pada suatu ketika ia memotong rambutnya menjadi pendek dan menghilangkan ciri khas rambut gondrongnya. Menariknya seusai potong rambut, ia kesulitan mencetak gol. Hingga akhirnya ia memutuskan kembali memanjangkan rambutnya, dan akhirnya ia kembali mencetak gol.

8. Claude Parfait Ngon A Djam
Sempat diragukan juga oleh pendukung SFC karena bukan termasuk bomber haus gol ketika bermain diklub sebelumnya, FC Horsen, Ngon A Djam menjawab keraguan tersebut dengan dua golnya ketika debut. Bahkan pada musim pertamanya bersama SFC, Ngon langsung masuk daftar top skor papan atas Liga Indonesia, bersaing dengan Boaz Solossa. Pemain yang ketika memperkuat SFC sempat diisukan diminati klub raksasa Jepang, Urawa Reds ini penampilannya terus menurun karena cedera hingga akhirnya dilepas SFC. Namun bagaimanapun bersama Kayamba Ngon merupakan pemain SFC yang hingga kini menjadi pencetak gol terbanyak dalam satu musim, yakni 22 gol.

Mungkin masih banyak pemain lain yang anda anggap layak masuk dalam daftar yang kami buat, tetapi pemilihan ini adalah berdasarkan subjektifitas penulis. Pembaca pun boleh mempunyai pandangan dan penilaian yang berbeda dengan penulis.

Beberapa Harapan Pecinta SFC di Tahun 2013

Monday, December 31, 2012

Logo Sriwijaya FC
@puspitaindaah : Semoga SFC makin sukses dan berjaya

@MAF_Andre : Tidak banyak, Hanya Perlu membangun tim hanya dengan produk lokal SUMSEL, Tak perlu pemain Bintang, Manfaatkan Apa yang ada

@sariaprina : Smga SFC Bisa mempertahankan gelar juara

@rico_desta : Smoga management lbh profesional mengatur keuangan club

@adeariyadi : smoga biso mempertahanke gelar juara isl dan juga menjuarai liga champion asia kalu biso

@husin_ramadoni : Smoga SFC Bisa mempertahan kan trofi ISL

@derisandria : Pertahankan juara!!! #itulah tradisi SFC!

@sepriputraA : Semoga SFC bisa memperoleh triblle winner, II2,ISL dan copa Indonesia, serta jadi klub yg lebih mapan

@Triisetiawan : Juara ISL kembali diraih Sriwijaya FC,eddy foday dan erick weeks jd andalan yang sangat produktif di musim depan

@Davranss182 : Semoga SFC di musim 2013 ini semakin kompak antar lini serta bisa finis dipapan atas syukur2 bisa mempertahankan gelar ISL

@andsap16 : semoga sriwijaya fc bisa mempertahankan gelar juara ISL dan bisa menjadi contoh bagi para klub2 d'indonesia

@berrytasum : semoga para pemain SFC semangkin kompak dan bisa menjadi juara2 baru di kompotisi lainnya

@Ibangpratama : smg ditahun musim yg akn dtng sriwijaya fc ttp konsisten brmain sprti musim lalu yg slalu menghibur penonton & tentu menang

@rullybhaloer : Smoga permainan SFC lebih matang lg supaya bisa mempertahankan gelar Juara ISL

@ranpramana : Smoga masy sumsel slaluh mendukung sfc dlm keadaan apapun dn tdk prnah menghujat sfc abis*an ketika kalah dlm pertandingan

@Jo3Pap : Smoga tim kbanggaan wong palembang bso memperthanke gelar juaranyo & smoga para pemain² ttap kompak

@DanovanADY21 : Smoga Tahta ISL ttap berthan dipalembng dgn pmain yg minim bintang,tetapi akan terlahir bnyk bintang ditubuh sfc musim dpn!

@nisakeceng14 : smga SFC bsa mmperthnkn juarany & ttp menjadi SFC yg sprti dlu walaupun dg pemain yg baru ! terus prthnkn selebrasi unikmu!

@Andriani90s : semoga MGT SFC lebih profesional, inginnya sih ikut PSSI, gak mau SFC dijadiin alar politik n mafia

Opini: Sepakbola Adalah Tim. Optimis!

Friday, September 7, 2012

Kayamba (Facebook.Com)

Manajemen Sriwijaya FC (SFC) akhirnya melepas beberapa pemain yang menjadi kunci dan tulang punggung musim lalu ketika meraih juara ISL. Termasuk nama Kayamba yang merupakan top skor tim. Selain itu terdapat nama Hilton Moreira, Firman Utina, Supardi Nasir, dan Muhammad Ridwan. Nama-nama yang disebutkan tadi merupakan pemain langganan starter.

Pro kontra terjadi dalam keluarnya para pemain tersebut, terutama Kayamba yang dianggap pendukung SFC sebagai salah legenda hidup SFC. Tidak sedikit suara yang menyesalkan dilepasnya Kayamba oleh manajemen SFC. Terdapat juga beberapa suara sumbang dengan nada pesimis, makian, dan hujatan kepada manajemen. Tetapi banyak juga yang bersikap optimis dan berpikir positif kedepannya dan menganggap dilepasnya Kayamba bukanlah suatu masalah karena sepakbola tim.

"SFC tidak tahu terimakasih" dan "Tanpa Kayamba SFC tidak akan juara lagi". Demikian sedikit inti kalimat yang terlihat di media sosial macam facebook dan twitter. Ungkapan kekecewaan karena pemain kesayangannya dilepas dan ungkapan pesimis akan nasib SFC kedepannya tanpa Kayamba.

Tidak bisa dipungkiri dan diragukan lagi. Kayamba adalah salah satu pemain yang berjasa sehingga SFC dapat meraih seluruh gelar di kompetisi nasional. Sedikitnya sudah 9 gelar dipersembahkan oleh Kayamba untuk SFC. Lalu apakah tanpa Kayamba SFC tidak akan meraih gelar lagi? Tentu saja tidak. SFC akan tetap berusaha untuk selalu memburu gelar juara dan mempersiapkan tim dengan maksimal.

Dalam kehidupan sebuah hal biasa yang namanya perpisahan, kepergian, dan kehilangan. Sebagai manusia yang baik tentu kita harus tetap menatap masa depan dan meraih prestasi yang lebih baik lagi. Kita harus optimis. Sepakbola adalah tim, bukan individu.

Dalam kerja sama kontrak kerja, pemain dan klub punya hak dan kewajiban. Jika tidak terjadi kesepakatan atau salah satu pihak enggan lagi melakukan kerja sama dengan pihak lainnya maka sah saja jika terjadi pelepasan pemain, termasuk terhadap seorang Kayamba, karena sebuah hal lumrah dalam kontrak profesional. Tentu saja tanpa mengurangi rasa hormat dan terimakasih atas jasa kepada SFC.

Opini: Tidak Dapat Tiket Salah Siapa?

Saturday, May 26, 2012

Ilustrasi (Dok. Pribadi)
Laga Sriwijaya FC vs Persipura (27/05), mendatang di Stadion Gelora Sriwijaya yang sarat emosi dan gengsi begitu menyedot perhatian para pecinta Sriwijaya FC dimanapun berada. Ribuan tiket telah disiapkan oleh manajemen Sriwijaya FC untuk laga yang diprediksi bakal ketat dan diberi tajuk "Super Big Match" tersebut. Selain penuh emosi dan gengsi, laga lawan Persipura nanti sedikit banyak akan mempengaruhi perjuangan Sriwijaya FC dalam meniti tahta juara Indonesia Super League untuk pertama kalinya.

Dari 40.000 kapasitas Stadion Gelora Sriwijaya, manajemen Sriwijaya FC mencetak sekitar 21.000 ribu tiket. Tentu saja jumlah tersebut tidaklah mencukupi untuk menampung animo yang begitu tinggi dari publik Sriwijaya FC. Sepekan sebelum pertandingan digelar bahkan manajemen Sriwijaya FC telah membuka pemesanan tiket yang bisa dipesan langsung di Sekretariat Sriwijaya FC di Palembang Square Mall, pemesanan melalui online baik melalui media sosial facebook maupun twitter.

Catatan ( 3 ): Perdamaian Itu Akhirnya Datang

Sunday, March 25, 2012

Bedulur
Singa - Beladas (Alex Putra)
Cikal bakal dari seluruh supporter Sriwijaya FC saat ini adalah Sriwijaya Mania (S-Man) yang berdiri pada tahun 2005, karena ada perbedaan pendapat, S-Man yang saat itu dipimpin oleh Masyhiril pecah menjadi dua. Terbentuklah kelompok supporter baru yang didirikan oleh 8 orang dan diberi nama Sriwijaya Ngamuk atau yang saat ini kita kenal dengan nama Singa Mania. Perpecahan dikubu supporter Sriwijaya FC tidak berhenti, setelah muncul Singa Mania muncullah Sriwijaya Mania Sumsel (SMS) pada tahun 2007 yang juga hasil perpecahan dari Sriwijaya Mania. Sriwijaya Mania Sumsel muncul setelah terjadi perpecahan suara dalam pengurus S-Man.

Namun lambat laun karena sering terjadi perpecahan, S-Man menghilang dari dunia supporter Sriwijaya FC dan tersisalah Singa Mania dan SMS. Hingga akhirnya muncullah Sriwijaya Mandiri Supporter (Simanis) yang merupakan perpecahan dari Singa Mania. Saat ini SMS dipimpin oleh Eddy Ismail, Simanis dipimpin oleh Qusoy, dan Singa Mania dipimpin oleh Deddy Pranata.

Berawal dari banyaknya masyarakat yang menginginkan penyatuan kelompok suporter Sriwijaya FC menjadi satu, seperti Viking dan Bomber (Bobotoh Maung Bersatu) di Bandung yang menyatu dan membiru di stadion menjadi “BOBOTOH”, yang dalam bahasa Indonesia berarti “Keluarga Besar”, YSS (Yayasan Suporter Surabaya) yang membawahi ribuan Bonek, Jak Mania yang mengorens di Jakarta, Aremania yang membiru di Kota Malang, dan Pasoepati (Pasoekan Suporter Solo Sejati) yang memerah di Solo. Suatu keinginan yang sama dengan Sriwijaya Mania Sumsel, cita-cita yang sejak lama didambakan, bersatu, bernyanyi bersama, dan menguningkan Stadion Jakabaring saat mendukung tim kesayangan Sriwijaya FC berlaga. Layaknya suporter besar seperti Jak Mania, YSS, Aremania dan sebagainya.

Mendengar opini dari publik sepakbola Sumsel, manajemen Sriwijaya FC pada musim kompetisi ISL 2010/2011 membuat wacana penggabungan kelompok suporter Sriwijaya FC ke dalam suatu wadah yang awalnya diberi nama Gangster (Gabungan Suporter Sriwijaya). Dalam hal ini mantan Manajer Sriwijaya FC pada saat merebut Double Winners, yang juga Ketua Pengda PSSI Sumsel, H. MC. Bariyadi, sangat ingin sekali kelompok suporter Sriwijaya FC bersatu. Oleh karena itu beliau berembuk dengan para ketua kelompok Sriwijaya FC pada saat itu, Eddy Ismail dari Sriwijaya Mania Sumsel, Qusoy dari Sriwijaya Mandiri Suporter, dan Deddy Pranata dari Singa Mania mengenai penggabungan suporter Sriwijaya FC kedalam suatu wadah.

Dalam perjalanannya menuju penyatuan H. MC. Bariyadi setuju menggelontorkan dana segar sebesar 1 Miliar rupiah untuk menebus tender tiket yang saat itu dipegang oleh CV Yulimas. Maksud H. MC. Bariyadi, setelah tender tiket ditebus dan diambil alih, suporterlah yang mengelola tiket dan keuntungan dari tiket tersebut dibagi tiga untuk para kelompok suporter. H. MC. Bariyadi berharap para suporter bisa mandiri, sehingga tidak perlu meminta kemana-mana dana, seperti untuk tur, penyewaan sekretariat dan sebagainya.

Sebelum ditebus tender tiket tersebut, H. MC.  Bariyadi menginginkan kelompok suporter mempunyai badan hukum, sehingga uang 1 Miliar yang ia gelontorkan ada yang bertanggung jawab jika uang tersebut “hilang”. Ketika H. MC. Bariyadi, Eddy Ismail (Ketum Sriwijaya Mania Sumsel), Qusoy (Ketum Simanis), Augie Bunyamin (Direktur Keuangan Sriwijaya FC) telah siap untuk membentuk badan hukum/yayasan kelompok suporter Sriwijaya FC ke notaris, beredar kabar dimedia massa jika salah satu kelompok suporter Sriwijaya FC menyatakan tidak jadi bergabung menjadi satu. Padahal sebelumnya dimedia massa ketiga pihak sudah deal untuk bersatu dan telah banyak usulan nama untuk Yayasan Suporter tersebut. Gagallah usaha dari H. MC. Bariyadi untuk menyatukan suporter Sriwijaya FC. Kegagalan seperti yang dinyatakan di atas tidaklah membuat kelompok suporter Sriwijaya FC, S-Man Sumsel dan Simanis patah arang untuk bersatu.

Setelah melewati masa-masa sulit, akhirnya terbentuklah suatu wadah suporter Sriwijaya FC yang atas usul salah satu rekan media, diberi nama Beladas (Bela Armada Sriwijaya). Beladas juga merupakan bahasa daerah yang berarti bersenang-senang. Diharapkan, para suporter Sriwijaya FC dapat bersatu dan bersenang-senang dalam satu wadah kekeluargaan saat mendukung tim Sriwijaya FC. Setelah S-Man Sumsel dan Simanis bergabung, diangkatlah Augie Bunyamin sebagai ketua harian dari Beladas. Dan akhirnya mau tidak mau S-Man Sumsel dan Simanis “ turun pangkat” menjadi Kordinator Wilayah dan para Korwil harus “turun pangkat” juga menjadi Sub Korwil.

Bergabungnya SMS dan Simanis menjadi Beladas ternyata tidak membuat perdamaian antar supporter semakin erat. Yang terjadi malah sering terjadi bentrokan berdarah antar supporter yang membuat penonton umum menjadi was-was untuk datang menonton langsung. Puncaknya pada putaran pertama ISL 2011/2012 sempat terjadi bentrokan berdarah yang berakibat korban jiwa dari supporter yang berseteru.

Dari sinilah kisah kelam berakhir, gerah wilayahnya sering terjadi bentrokan Kapolresta Palembang, Kombes (Pol) Sabaruddin Ginting mempertemukan ketiga petinggi supporter Sriwijaya FC (Singa Mania, SMS, dan Simanis) untuk mendamaikan supporter Sriwijaya FC. Kapolresta Palembang juga memberikan peringatan keras dan ancaman akan mencabut izin bertanding Sriwijaya FC di Palembang.

Puncaknya perdamaian yang selama ini diimpikan oleh supporter Sriwijaya FC terjadi pada tanggal 17 Maret 2012 saat Sriwijaya FC bertanding melawan Persiram Raja Ampat dipertandingan terakhir Sriwijaya FC diputaran pertama ISL 2011/2012. Diawali dengan kelilingnya para petinggi supporter Sriwijaya FC untuk memberikan salam perdamaian, kemudian dirigen Beladas, Qusoy yang naik ke tribun utara Singa Mania untuk memberikan salam perdamaian. Hingga akhirnya saat usai pertandingan ribuan Singa Mania berhamburan ke tribun timur untuk memberikan salam perdamaian kepada Beladas dan saling bersahutan menyanyikan yel-yel perdamaian. Begitu mengharukan ketika pertikaian yang selama ini begitu kental berubah menjadi pekik perdamaian.

Kuning hijau sama saja..
Sama-sama dukung... Dukung Sriwijaya...

Disini Beladas.. di sana Singa..
Dimana-mana kita sodara..

Disini Singa.. disana Beladas..
Dimana-mana kita sodara..

Catatan ( 2 ): Beberapa Masalah Sriwijaya FC di Putaran 1

Saturday, March 24, 2012

Logo Sriwijaya FC (Internet)
Sriwijaya FC pada ISL 2011/2012 mengalami beberapa masalah yang cukup menyedot perhatian publik. Dimulai dari gonjang-ganjing mengenai kompetisi yang akan diikuti oleh Sriwijaya FC hingga ancaman deportasi kepada top skor Sriwijaya FC, Keith Jerome Gumbs.

Awalnya instruksi dari Dewan Pembina Sriwijaya FC, Alex Noerdin yang juga Gubernur Sumatera Selatan mengintruksikan kepada manajemen Sriwijaya FC agar mengikuti kompetisi resmi PSSI, dalam hal ini Indonesia Premier League (IPL).

Opini : Pemain Juga Manusia

Monday, March 12, 2012

Rifky Mokodompit (www.okezone.com)
Sore itu 08 Maret 2012, tersaji pertandingan yang bisa dikatakan pertandingan “Super Big Match” antara Sriwijaya FC vs Mitra Kukar. Dimana hasil akhir skor 4-3 untuk kemenangan Sriwijaya FC. Disini saya akan membahas penampilan dari Rifky Mokodompit. Walaupun hasil akhir dimenangkan Sriwijaya FC, tidak banyak orang yang puas terhadap permainan kiper Sriwijaya FC Rifky Mokodompit, banyak yang menilai bahwa penampilan Rifky saat itu tidak baik atau bahkan sangat mengecewakan. Bagaimana tidak Rifky beberapa kali melakukan blunder yang mengakibatkan pemain Mitra Kukar berhasil menjebol gawang dari Sriwijaya FC. Lemahnya lini belakang Sriwijaya FC juga dinilai kurang maksimal, mereka sering kali salah koordinasi baik sesama pemain belakang maupun terhadap kiper.

Setelah pertandingan selesai pun, di media sosial seperti jejaring twitter banyak yang berkomentar tentang penampilan Rifky. Berbagai komentar pun menghampiri Rifky mulai dari komentar positif hingga komentar negatif. Banyak yang bilang Rifky main tidak bagus, ada yang bilang Rifky bodoh, dan kata-kata kasar lainnya. Menyikapi hal itu saya merasa perjuangan mereka (pemain. red) terutama perjuangan Rifky tidak dihargai sama sekali. Seharusnya mereka yang berkomentar itu bisa berpikir, kalo Rifky baru dimainkan 3 kali bagaimana mungkin dia bisa langsung sehebat Ferry Rotinsulu, Rifky juga manusia. Dia sama halnya dengan pemain lain, yang masih butuh jam terbang.

Sepakbola Ramah Anak

Monday, February 27, 2012

Supporter Cilik ( Facebook )
Begitu senang rasanya melihat ketika ada anak kecil yang menonton langsung pertandingan sepakbola ke stadion didampingi oleh orang tuanya. Terpancar aura bahagia bahagia anak-anak ketika dituntun atau bahkan digendong orang tuanya ketika memasuki arena Stadion. Dengan kostum kebanggaan tim yang didukung, semakin membuat mata yang memandang senang. Pernah terpikir mengapa ketika saya kecil dahulu tidak seperti mereka, menonton sepakbola bersama orang tua dengan memakai jersey tim kebanggaan. Sungguh iri rasanya kepada gerombolan anak kecil tersebut.

Tidak sampai disitu saja, selama pertandingan anak-anak yang terus diawasi oleh orang tuanya tersebut juga antusias dengan jalannya pertandingan. Terbukti dengan teriakan yang secara spontan keluar dari mulut mungil mereka ketika terjadi pelanggaran terhadap pemain tim idola mereka, atau ketika terjadi gol para supporter cilik tersebut meloncat kegirangan layaknya tingkah anak kecil.

Tidak jarang bahkan anak-anak kecil tersebut hafal dengan para idola mereka, seperti di Sriwijaya FC ada Ferry Rotinsulu dan Keith Jerome Gumbs yang begitu idolakan oleh pendukung cilik tersebut. Jika dibandingkan dengan saat saya masih kecil dahulu sangat jauh berbeda. Dahulu sepakbola biasanya diidentikkan dengan laki-laki dewasa, sehingga anak kecil sangat jarang diperbolehkan menonton sepakbola. Ini terjadi tidak lain karena identiknya sepakbola dengan kerusuhan dan kekerasan sehingga orang tua cenderung melarang keras anaknya untuk menyaksikan langsung ke stadion permainan paling populer sejagad raya ini.

Kini pola pikir masyarakat sepakbola telah sedikit demi sedikit bergeser, dari yang dulu memandang negatif sepakbola kini telah mulai berubah memandang sepakbola sebagai salah tontonan rekreatif di tengah tontonan yang kurang variatif dan membonsankan di negeri ini. Stadion kini menjadi salah satu tempat favorit keluarga menghabiskan waktu libur. Dahulu anak-anak kecil mengidolakan tokoh kartun atau pun super hero, kini telah bergeser dengan mengidolakan para pemain sepakbola baik pesepakbola lokal maupun internasional. Dulu ada Spiderman, kini idola mereka adalah Ferry Rotinsulu dan pemain lainnya.

Salut untuk para orang tua yang mengajak anaknya menonton langsung sepakbola ke stadion. Dengan gagahnya menggunakan jersey kebanggaan ditambah lilitan syal dileher yang nampak kebesaran tidak menghilangkan ciri khas anak-anak yang memang menggemaskan. Membuat stadion yang selama ini dianggap suram kini menjadi penuh keceriaan. Dulu stadion yang identik dengan orang dewasa, kini sudah mulai ramah terhadap anak. Semoga semakin banyak orang tua yang mengajak anaknya "rekreasi" ke stadion sebagai alternatif tempat menghabis waktu bersama keluarga.
 

© 2014 INFO SRIWIJAYA FC - All Rights Reserved | Supported by : Blogger | Presented by : Info Sriwijaya FC | Desain by : Andrean Wahyu Effendy