Harga Tiket Pertandingan Sriwijaya FC

Friday, April 3, 2015

Sriwijayafc.info - Manajemen klub Sriwijaya FC (SFC) membuat kebijakan baru dengan menaikkan harga tiket pertandingan kandang SFC. Beberapa kategori tiket pertandingan kandang SFC dinaikkan harganya sebesar 5 ribu rupiah. Hal tersebut dilakukan demi menambah pemasukan SFC untuk mengarungi kompetisi pada musim 2015.

Direktur Marketing dan Promosi PT Sriwijaya Optimis Mandiri, Nirmala Dewi menuturkan bahwa keputusan menaikkan harga tiket pertandingan SFC adalah keputusan bersama petinggi SFC. Nirmala menambahkan bahwa hanya tiket kategori VVIP dan tribun timur yang tidak mengalami kenaikan harga. "Harga tiket VVIP tetap Rp100.000 dan tribun timur juga tetap Rp. 25.000," sebut Nirmala Dewi dilansir Seputar Indonesia.

Berikut harga tiket pertandingan kandang SFC musim 2015.
Kategori VVIP : Rp. 100.000 (tetap)
Kategori VIP Biru : Rp. 50000 (sebelumnya 45.000)
Kategori Barat Atas : Rp. 40.000 (sebelumnya 35.000)
Kategori Tribun Timur : Rp. 25.000 (tetap)
Kategori Tribun Utara & Selatan : Rp.20.000 (sebelumnya 15.000)

Tanggapan Pendukung SFC Tentang Polekmik ISL 2015

Tuesday, February 24, 2015

Sriwijayafc.info - Polekmik PSSI, BOPI, dan Kemenpora RI yang menyebabkan Indonesia Super League (ISL) 2015 sempat tidak jelas nasibnya. Kompetisi yang sedianya dijadwalkan dimulai pada 20 Februari 2015, ditunda oleh BOPI dan Kemenpora menjadi 4 Maret 2015. Namun akhirnya ketiga pihak yang berpolekmik sepakat ISL 2015 digelar pada 4 April 2015.


Beragam komentar keluar dari pendukung klub peserta ISL 2015 terkait polekmik ISL 2015. Pendukung klub Sriwijaya FC (SFC) salah satunya banyak menyuarakan komentar bernada protes hingga putus asa terkait nasib ISL 2015. "Mending sekalian 17 Agustus," tulis salah satu pendukung SFC, Agung Riyanto melalui akun twitter @SYNYAgung ketika menanggapi informasi ISL 2015 dimulai 4 April 2015.

Senada dengan Agus Riyanto, Bagus Surya melalui akun twitter @DenAbham menyarankan agar ISL 2015 dimulai bulan Agustus. "Mending mulai bulan agustus, jadi bisa bareng EPL," tulis Bagus Surya.

Dilain pihak, Eddy Ismail sebagai Ketua Umum Sriwijaya Mania, salah satu kelompok supporter SFC menuturkan kekecewaanya terhadap penundaan ISL 2015. Menurutnya klub ISL 2015 banyak yang rugi akibat penundaan ISL 2015, mulai dari kontrak pemain hingga jadwal latihan. "Kita sangat kecewa dengan diundur-undur terus jadwal ISL. Kita berharap polekmik mengenai ISL 2015 segera berakhir dan tidak berkelanjutan agar tidak disanksi FIFA," ungkap pria yang akrab disapa Eddy Gonjing ini (24/02).

Kekhawatiran yang sama juga muncul dari Muhammad Wira yang khawatir Indonesia dijatuhi sanksi oleh FIFA karena polekmik ISL 2015. Menurut Wira walaupun ISL 2015 direncanakan digelar 4 April 2015, belum tentu juga terlaksana dan rasanya akan berbeda. "Cugak! berbulan-bulan menunggu ternyata pending," keluh Wira (24/02).

SFC Hendaknya Contoh Persip

Friday, February 13, 2015


InfoSriwijayaFC - Sebuah foto menarik beredar di sosial media, yakni foto capture mengenai pengumuman hasil penjualan tiket pertandingan Persip Kota Pekolangan vs Persija Jakarta. Foto yang jika dilihat sekilas tidak menarik, namun memiliki arti yang sangat besar. Salah satunya mengenai transparansi kepada publik dalam sepakbola.


Foto yang beredar tersebut berisikan jumlah tiket yang dicetak, yang terjual, dan hasil penjualan oleh panitia pelaksana (panpel) pertandingan Persip Kota Pekalongan. Selain itu juga terdapat jumlah penonton yang masuk tanpa membayar.

Laporan hasil penjualan tiket pertandingan Persip vs Persija
Sebuah langkah yang patut dicontoh oleh klub Sriwijaya FC (SFC) sebagai salah satu klub yang beranjak menjadi klub profesional. Pemaparan hasil penjualan tiket bisa menjadi salah satu langkah kecil dari manajemen SFC untuk mendekatkan diri kepada pendukung SFC. Langkah kecil yang bisa semakin menumbuhkan kecintaan dan dukungan dari publik SFC.

Pemaparan hasil penjualan tiket juga bisa menjadi langkah untuk mendukung transparansi dalam sepakbola karena selama ini masalah keuangan klub SFC masih jarang tersentuh oleh publik. Hanya kalangan terbatas saja yang mengetahui keadaan keuangan klub SFC, padahal SFC dianggap sebagai milik publik. Tentunya tidak salah jika pendukung SFC, khususnya masyarakat Sumatera Selatan yang dianggap pemilik bersama SFC berharap transparansi penjualan tiket pertandingan SFC.

Langkah Direktur Pemasaran dan Promosi PT Sriwijaya Optimis Mandiri (PT SOM), Nirmala Dewi yang memilih untuk mengelola sendiri tiket pertandingan SFC adalah sebuah langkah awal yang patut diapresiasi. Pengelolaan sendiri tiket pertandingan SFC dapat mengurangi harga tiket tanpa mengurangi keuntungan bagi pihak manajemen SFC.

Dalam suatu kesempatan, Nirmala Dewi mengatakan bahwa peluang bocornya tiket pertandingan kandang SFC tetap ada karena banyaknya pintu masuk Stadion Gelora Sriwijaya. Peningkatan keamaanan saat masuk pertandingan tentunya merupakan cara yang dianggap paling ampuh. Kembali tidak ada salahnya manajemen SFC memaparkan kepada publik informasi hasil penjualan tiket demi transparansi dan menghimbau kepada publik untuk membeli tiket pertandingan SFC melalui media yang dimiliki oleh SFC, seperti halnya yang dilakukan oleh Persip Pekalongan. Bukankah SFC milik kita bersama?

Kompak Sebut Harga Tiket Mahal

Sunday, January 25, 2015

InfoSriwijayaFC - Tiga kelompok suporter Sriwijaya FC (SFC) sepakat jika harga tiket pertandingan semifinal dan final Surya Citra Media (SCM) Cup 2015 terlalu mahal. Alasannya adalah SCM Cup 2015 hanya berlabel laga pra musim.

Ketua Umum Singa Mania, Hendri Zainuddin menyebutkan bahwa jika nanti stadion sepi, bukan karena suporter tidak loyal, tetapi lebih karena tiket yang terlalu mahal. Menurutnya suporter SFC akan berpikir ulang untuk menonton langsung ke stadion. "Harapan kita minimal bisa turun, minimal sama dengan harga tiket kanda SFC di ISL," ungkap Hendri dilansir laman Sriwijaya Post.

Senada dengan Hendri, Ketua Umum Sriwijaya Mania, Eddy Ismail mengungkapkan kekecewaanya. Menurut Eddy, harga tiket pertandingan SCM CUp lebih mahal dari pada tiket pertandingan SCM Cup 2015, padahal kepuasan menonton SCM Cup 2015 dan ISL sangat berbeda. "Cukup wajar kalau kita berharap tiket seharusnya lebih murah," ungkap Eddy.

Begitu pula dengan Pembina Simanis Ultras Palembang (SUP), Qusoy yang menyebutkan bahwa harga tiket untuk tribun tempat kelompoknya menonton terlalu memberatkan. Qusoy menambahkan bahwa selain harga tiket, kurangnya jaminan keamanan juga diprediksinya akan mengurangi antusiasme pendukung SFC untuk menonton langsung ke stadion.

Seperti yang diketahui, panitia SCM Cup 2015 telah menetapkan harga tiket SCM Cup 2015 dengan harga tribun VVIP: Rp 150.000, tribun VIP Biru: Rp. 100.000, barat atas: Rp. 75.000, tribun timur: Rp. 50.000, tribun selatan dan utara: Rp. 30.000. Harga tiket tersebut dianggap memberatkan, apalagi pendukung SFC masih banyak yang berusia remaja, sehingga belum mempunyai penghasilan sendiri. (SRIPO)

Bendol Tantang Suporter SFC

Wednesday, December 17, 2014

InfoSriwijayaFC - Pelatih kepala Sriwijaya FC (SFC) Benny ‘Bendol’ Dollo membuka diri untuk menerima masukan dan kritik dari suporter. Hal itu demi mewujudkan target juara di Indonesia Super League (ISL) musim 2015.

Pria bernama lengkap Benny Selvianus Dollo itu mengibaratkan suporter sebagai bagian dari bangunan rumah besar Sriwijaya FC. Bendol percaya suporter sangat tahu apa kekurangan dan kesalahan timnya. “Musim depan target kami juara, silahkan suporter kritik saya. Kenapa? Agar tim kuat karena bila ada yang salah segera dibenarkan," kata Bendol.

Menurut Bendol, punya 50% pemain-pemain bintang dan pemain asing top, tidak menjamin target juara berjalan mulus. Bendol mengaku butuh masukan dari setiap elemen-elemen penting di tubuh Sriwijaya FC seperti manajemen, asisten pelatih, pemain, dan suporter. “Saya juga butuh dukungan suporter. Apabila Sriwijaya FC kalah, tetaplah berikan dukungan kepada kami. Namanya juga sepak bola ada kalanya pemain cedera. Intinya kalah atau menang suporter harus mendukung kami,” ujarnya

Bendol mengaku kecewa dengan kisruh yang terjadi di kelompok suporter Sriwijaya FC. Bendol berharap mereka bersatu dan tidak terbelah dalam memberikan dukungan secara maksimal khususnya di laga kandang. “Selama saya jadi pelatih dimana pun, ketika di Arema disana saya mendapatkan kesan kepada suporternya. Saya harap di Sriwijaya FC suporternya seperti itu,” harapnya. (MLM/SINDO)

Sriwijaya Mania Siapkan Kejutan

Tuesday, May 20, 2014

InfoSriwijayaFC - Salah satu kelompok supporter Sriwijaya FC (SFC), Sriwijaya Mania tepat berusia 9 tahun pada 20 Mei 2014. Perayaan kelompok supporter yang menghuni tribun timur Stadion Gelora Sriwijaya ini baru akan dilaksanakan saat pertandingan SFC menghadapi Persik Kediri, Rabu (21/05).

Ketua Umum Sriwijaya Mania, Eddy Ismail mengutarakan pihaknya akan menyiapkan kejutan saat perayaan hari jadi Sriwijaya Mania, Rabu nanti. Salah satu aksi yang disebutkan oleh Eddy adalah akan adanya koreografi. "Pada saat perayaan nanti kami menyiapkan koreografi, pemotongan tumpeng, dan lainnya masih rahasia untuk kejutan," ungkap Eddy.

Saat perayaan ulang tahun ke-9 Sriwijaya Mania juga akan dihadiri oleh dua kelompok supporter SFC lainnya, yaitu Singa Mania dan Simanis Ultras Palembang. Selain itu direncanakan akan hadir tim lima pendiri Sriwijaya Mania, yang salah satunya yaitu Masyril, Ketua Umum pertama Sriwijaya Mania.

Eddy berharap dengan momen ulang tahun ke-9 Sriwijaya Mania, kelompok supporter SFC dapat akur. "Harapannya jangan ada lagi bentrok antar supporter SFC dan SFC bisa kembali juara lagi," harap Eddy.

Kone: Suporter Adalah Nyawa Kedua

Wednesday, April 16, 2014

InfoSriwijayaFC - Keberadaan suporter bagi sebuah klub sepakbola, tidak hanya sebagai pajangan atau pemanis. Suporter bak nyawa kedua bagi tim. Pemain Lancine Kone menilai, di belahan dunia manapun, suporter selalu ada untuk tim sepakbola. Suporter menurut dia, ibarat suplemen, dan nyawa kedua bagi Sriwijaya FC.

"Mereka tidak hanya membuat semarak pertandingan, tetapi dukungan mereka menjadi ruh tambahan. Menjadi kekuatan baru ketika stamina sudah mulai menurun terutama di menit-menit akhir," jelas Kone.

Seperti diketahui, manajemen mendaftarkan tiga suporter yakni Singa Mania, Sriwijaya Mania Sumsel, dan Simanis Ultras Palembang ke PT Liga Indoneisa. Didaftarkannya secara resmi ketiga kelompok suporter yang kerap berselisih paham sepanjang keberadaan SFC di ISL ini, menjadi bukti bahwa mereka diakui sebagai ruh kedua bagi SFC.

Tanpa suporter yang dikelola dengan baik, maka akan terasa hambar. Suporter di jajaran klub-klub elit Eropa menjadi bagian penting dan turut mendongkrak popularitas, menarik minat sponsor, dan memberikan kontribusi berupa pemasukan dari sektor penjualan tiket dan marchendise bagi klub. (Hendra/SRIPO)

Forkom Suporter SFC Siap Beraksi

Saturday, April 12, 2014

InfoSriwijayaFC - Manajemen Sriwijaya FC (SFC) membentuk Forum Komunikasi Suporter SFC. Hal ini dilakukan untuk memperat tali silaturahmi antara kelompok suporter SFC yang ada. Harapannya dengan adanya forum komunikasi tersebut, kejadian anarkis yang kerap melibatkan kelompok suporter SFC dapat diminimalisir.

Sekretaris PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), Faisal Mursyid menegaskan mulai pertandingan SFC menghadapi Persita Tangerang, (22/04) nanti sebelum pertandingan akan diadakan silaturahmi. Untuk mewujudkan hal tersebut, manajemen SFC akan berkoordinasi dengan 15 orang perwakilan kelompok suporter SFC yang menjadi pengurus forum komunikasi untuk menyusun program kerja yang dapat mempererat silaturahmi antar kelompok suporter SFC.

Untuk diketahui, Forum Komunikasi Suporter SFC ini dibentuk pada 26 Februari 2014. Ketika itu merupakan momen ikrar damai tiga kelompok suporter SFC, yaitu Simanis Ultras Palembang (SUP), Sriwijaya Mania, dan Singa Mania. Dari tiap kelompok suporter diambil lima perwakilan yang menjadi pengurus Forum Komunikasi Suporter SFC. (Tribun Sumsel/edit)

Nonton SFC Sekaligus Nyumbang Panti Asuhan

Wednesday, January 30, 2013

Penonton SFC (Sriwijaya Post)
Manajemen Sriwijaya FC (SFC) menyisihkan donasi sebesar Rp. 500,- dari setiap hasil penjualan satu lembar tiket pertandingan kandang SFC. Hal ini berlaku untuk seluruh jenis tiket pertandingan kandang SFC. Kegiatan yang bertajuk "SFC For Charity" ini merupakan lanjutan dari kegiatan yang sudah dimulai sejak musim lalu dan bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, seperti panti asuhan.

Dilansir Sripoku.Com, (29/01), Dirtek dan SDM PT SOM, Hendri Zainuddin menyebutkan jika untuk mencapai target juara tidak hanya butuh kerja keras pemain, pelatih, dan manajemen, namun juga bantuan Allah SWT melalui do'a yang dipanjatkan oleh anak-anak yatim.

"Kita juga tidak boleh mengabaikan faktor non teknis, bantuan dari Allah SWT melalui doa-doa anak yatim," ujar Hendri dilansir Sripoku.Com, (29/01).

Kekalahan SFC dalam dua partai terakhir menjadi evaluasi dan motivasi mendalam bagi elemen dalam SFC, termasuk introspeksi diri seperti memperbaiki hubungan dengan masyarakat, dalam hal ini saling membantu dengan masyarakat yang membutuhkan. Diharapkan adanya kegiatan ini bisa meringankan beban masyarakat.

"Andai dalam satu pertandingan laku sebanyak 20.000 lembar tiket, maka akan terkumpul sekitar 10 juta yang akan disumbangkan," ujar Hendri dilansir Sripoku.Com, (29/01).

Seperti yang diketahui, pada musim lalu manajemen SFC mulai menggelar kegiatan amal bertajuk "SFC For Charity" dengan menyisihkan Rp. 100,- dari setiap lembar tiket yang terjual untuk membantu warga yang membutuhkan. Untuk tahun ini manajemen SFC kembali melanjutkan kegiatan positif tersebut dan juga menaikan donasi yang disisihkan menjadi Rp. 500,-.

Bukti Militansi Supporter Sriwijaya FC

Friday, April 20, 2012

(Facebook)
Dalam tiga partai tandang Sriwijaya FC menghadapi Deltras Sidoarjo dan duo Kalimantan Timur, Persisam Samarinda dan Mitra Kukar FC, Sriwijaya FC tidak sendirian meladeni para tuan rumah tersebut.

Tiga kelompok supporter Sriwijaya FC, Sriwijaya Mania Sumsel (SMS), Sriwijaya Mandiri Supporter (Simanis), dan Singa Mania bahu membahu memberikan dukungan kepada tim Laskar Wong Kito (Julukan Sriwijaya FC) dengan cara mengirimkan perwakilannya untuk menemani Sriwijaya FC. Dimulai dari partai tandang melawan tuan rumah Deltras Sidoarjo (13/04), kemarin SMS dan Singa Mania mengirimkan utusannya dari Palembang untuk mendukung langsung Sriwijaya FC ke Sidoarjo.

Selanjutnya laga tandang melawan Persisam Samarinda (18/04), kemarin Singa Mania, SMS, dan Simanis bahu membahu memberikan dukungan kepada Sriwijaya FC langsung ke Samarinda. Dan partai terakhir Sriwijaya FC dalam tiga lawatan tandangnya akan bertamu ke Stadion Aji Imbut Tenggarong menghadapi tuan rumah Mitra Kukar FC, tentu Sriwijaya FC tidak akan sendirian juga karena para supporter yang mendukung Sriwijaya FC ke Samarinda akan kembali datang ke memberikan dukungan langsung ke Stadion Aji Imbut.

Jarak yang jauh melintasi lautan, pengorbanan waktu dan dana bukan lah masalah bagi tiga kelompok supporter Sriwijaya FC tersebut. Dilansir dari Sriwijaya Post, para ketua supporter mengakui jika tur ke Kalimantan merupakan hal yang pertama kali dan sebuah pemecahan rekor karena belum sekalipun para supporter Sriwijaya FC tur ke Kalimantan sejak Sriwijaya FC didirikan tujuh tahun lalu. Jarak yang jauh dan biaya yang besar menjadi pertimbangan bagi para supporter.

Namun kini rekor tersebut telah dipecahkan oleh beberapa orang supporter Singa Mania (Areif, Ujang, dan Sansan), kemudian Simanis mengirimkan Erlan, dan SMS mengirimkan Eko dan Andra untuk mendukung langsung Sriwijaya FC di Kalimantan. Diharapkan dengan dukungan langsung para supporter yang telah berkorban jauh datang dari Palembang dapat menjadi motivasi para pemain Sriwijaya FC untuk meraih kemenangan. Dan terbukti dua dari tiga partai tandang yang telah dijalani Sriwijaya FC berhasil menyapu bersih 6 poin.

Sriwijaya FC Tidak Sendirian Ladeni Deltras

Thursday, April 12, 2012

Eddy Ismail (Dokumen Pribadi)
Sriwijaya FC dipastikan tidak sendirian saat meladeni tuan rumah Deltras Sidoarjo (13/04) mendatang. Ketua Umum Bela Armada Sriwijaya FC (Beladas) Korwil Sriwijaya Mania SUmsel (SMS), Eddy Ismail mengatakan jika SMS mengirimkan anggotanya untuk mendampingi Sriwijaya FC dalam pertandingan perdana Sriwijaya FC diputaran kedua Indonesia Super League (ISL). Menurut Eddy Ismail, diharapkan dengan adanya dukungan langsung dari supporter, Sriwijaya FC dapat bermain maksimal dan meraih poin penuh walaupun bermain di kandang lawan.

"Kami mengirim 7 anggota dari Palembang dan 4 orang dari Korda di Jawa. Diharapkan Sriwijaya FC dapat meraih tiga poin," ucap Eddy Ismail.

Perwakilan Beladas Korwil SMS berangkat menuju Sidoarjo dengan menggunakan kereta api, atau yang biasa disebut kalangan supporter dengan sebutan "ngeteng".

Absennya dua pilar lini belakang Sriwijaya FC, Ahmad Jufriyanto dan Thierry Gatuessy karena skorsing akumulasi kartu kuning menurut Eddy sedikit banyak akan mempengaruhi kekuatan lini belakang Sriwijaya FC. Namun, dengan datangnya pemain anyar asal Australia, Michael Jamie Coyne yang berposisi sebagai pemain belakang akan menutupi absennya Ahmad Jufriyanto dan Thierry.

"Jamie Coyne akan menutupi kekurangan lini belakang Sriwijaya FC dan menjadi pengganti yang sepadan bagi Jufe dan Thierry," sebut Eddy.

Selain Beladas SMS, kelompok supporter Sriwijaya FC lainnya Singa Mania juga mengirimkan lima orang perwakilannya untuk mendukung langsung Sriwijaya FC ke Kota Sidoarjo. Demikian yang kami lansir dari akun twitter Singa Mania (@SingaManiaSFC).

Hadirnya kelompok supporter Sriwijaya FC, Beladas dan Singa Mania selain menjadi motivasi bagi para pemain Sriwijaya FC untuk menuntaskan misi tiga poin, hadirnya supporter Sriwijaya FC ke Stadion Gelora Delta Sidoarjo (kandang Deltras-red) juga sebagai sarana silaturahmi kepada Delta Mania (kelompok supporter Deltras) karena selama ini silaturahmi antara supporter Sriwijaya FC dan Deltras sudah lama terjalin baik. Contohnya ketika Sriwijaya FC bermain di Sidoarjo ketika Semifinal Piala Indonesia 2010, pihak supporter Deltras menjamu supporter Sriwijaya FC, begitu juga ketika Deltras bermain di Palembang, supporter Sriwijaya FC juga menjamu Delta Mania.

Catatan ( 3 ): Perdamaian Itu Akhirnya Datang

Sunday, March 25, 2012

Bedulur
Singa - Beladas (Alex Putra)
Cikal bakal dari seluruh supporter Sriwijaya FC saat ini adalah Sriwijaya Mania (S-Man) yang berdiri pada tahun 2005, karena ada perbedaan pendapat, S-Man yang saat itu dipimpin oleh Masyhiril pecah menjadi dua. Terbentuklah kelompok supporter baru yang didirikan oleh 8 orang dan diberi nama Sriwijaya Ngamuk atau yang saat ini kita kenal dengan nama Singa Mania. Perpecahan dikubu supporter Sriwijaya FC tidak berhenti, setelah muncul Singa Mania muncullah Sriwijaya Mania Sumsel (SMS) pada tahun 2007 yang juga hasil perpecahan dari Sriwijaya Mania. Sriwijaya Mania Sumsel muncul setelah terjadi perpecahan suara dalam pengurus S-Man.

Namun lambat laun karena sering terjadi perpecahan, S-Man menghilang dari dunia supporter Sriwijaya FC dan tersisalah Singa Mania dan SMS. Hingga akhirnya muncullah Sriwijaya Mandiri Supporter (Simanis) yang merupakan perpecahan dari Singa Mania. Saat ini SMS dipimpin oleh Eddy Ismail, Simanis dipimpin oleh Qusoy, dan Singa Mania dipimpin oleh Deddy Pranata.

Berawal dari banyaknya masyarakat yang menginginkan penyatuan kelompok suporter Sriwijaya FC menjadi satu, seperti Viking dan Bomber (Bobotoh Maung Bersatu) di Bandung yang menyatu dan membiru di stadion menjadi “BOBOTOH”, yang dalam bahasa Indonesia berarti “Keluarga Besar”, YSS (Yayasan Suporter Surabaya) yang membawahi ribuan Bonek, Jak Mania yang mengorens di Jakarta, Aremania yang membiru di Kota Malang, dan Pasoepati (Pasoekan Suporter Solo Sejati) yang memerah di Solo. Suatu keinginan yang sama dengan Sriwijaya Mania Sumsel, cita-cita yang sejak lama didambakan, bersatu, bernyanyi bersama, dan menguningkan Stadion Jakabaring saat mendukung tim kesayangan Sriwijaya FC berlaga. Layaknya suporter besar seperti Jak Mania, YSS, Aremania dan sebagainya.

Mendengar opini dari publik sepakbola Sumsel, manajemen Sriwijaya FC pada musim kompetisi ISL 2010/2011 membuat wacana penggabungan kelompok suporter Sriwijaya FC ke dalam suatu wadah yang awalnya diberi nama Gangster (Gabungan Suporter Sriwijaya). Dalam hal ini mantan Manajer Sriwijaya FC pada saat merebut Double Winners, yang juga Ketua Pengda PSSI Sumsel, H. MC. Bariyadi, sangat ingin sekali kelompok suporter Sriwijaya FC bersatu. Oleh karena itu beliau berembuk dengan para ketua kelompok Sriwijaya FC pada saat itu, Eddy Ismail dari Sriwijaya Mania Sumsel, Qusoy dari Sriwijaya Mandiri Suporter, dan Deddy Pranata dari Singa Mania mengenai penggabungan suporter Sriwijaya FC kedalam suatu wadah.

Dalam perjalanannya menuju penyatuan H. MC. Bariyadi setuju menggelontorkan dana segar sebesar 1 Miliar rupiah untuk menebus tender tiket yang saat itu dipegang oleh CV Yulimas. Maksud H. MC. Bariyadi, setelah tender tiket ditebus dan diambil alih, suporterlah yang mengelola tiket dan keuntungan dari tiket tersebut dibagi tiga untuk para kelompok suporter. H. MC. Bariyadi berharap para suporter bisa mandiri, sehingga tidak perlu meminta kemana-mana dana, seperti untuk tur, penyewaan sekretariat dan sebagainya.

Sebelum ditebus tender tiket tersebut, H. MC.  Bariyadi menginginkan kelompok suporter mempunyai badan hukum, sehingga uang 1 Miliar yang ia gelontorkan ada yang bertanggung jawab jika uang tersebut “hilang”. Ketika H. MC. Bariyadi, Eddy Ismail (Ketum Sriwijaya Mania Sumsel), Qusoy (Ketum Simanis), Augie Bunyamin (Direktur Keuangan Sriwijaya FC) telah siap untuk membentuk badan hukum/yayasan kelompok suporter Sriwijaya FC ke notaris, beredar kabar dimedia massa jika salah satu kelompok suporter Sriwijaya FC menyatakan tidak jadi bergabung menjadi satu. Padahal sebelumnya dimedia massa ketiga pihak sudah deal untuk bersatu dan telah banyak usulan nama untuk Yayasan Suporter tersebut. Gagallah usaha dari H. MC. Bariyadi untuk menyatukan suporter Sriwijaya FC. Kegagalan seperti yang dinyatakan di atas tidaklah membuat kelompok suporter Sriwijaya FC, S-Man Sumsel dan Simanis patah arang untuk bersatu.

Setelah melewati masa-masa sulit, akhirnya terbentuklah suatu wadah suporter Sriwijaya FC yang atas usul salah satu rekan media, diberi nama Beladas (Bela Armada Sriwijaya). Beladas juga merupakan bahasa daerah yang berarti bersenang-senang. Diharapkan, para suporter Sriwijaya FC dapat bersatu dan bersenang-senang dalam satu wadah kekeluargaan saat mendukung tim Sriwijaya FC. Setelah S-Man Sumsel dan Simanis bergabung, diangkatlah Augie Bunyamin sebagai ketua harian dari Beladas. Dan akhirnya mau tidak mau S-Man Sumsel dan Simanis “ turun pangkat” menjadi Kordinator Wilayah dan para Korwil harus “turun pangkat” juga menjadi Sub Korwil.

Bergabungnya SMS dan Simanis menjadi Beladas ternyata tidak membuat perdamaian antar supporter semakin erat. Yang terjadi malah sering terjadi bentrokan berdarah antar supporter yang membuat penonton umum menjadi was-was untuk datang menonton langsung. Puncaknya pada putaran pertama ISL 2011/2012 sempat terjadi bentrokan berdarah yang berakibat korban jiwa dari supporter yang berseteru.

Dari sinilah kisah kelam berakhir, gerah wilayahnya sering terjadi bentrokan Kapolresta Palembang, Kombes (Pol) Sabaruddin Ginting mempertemukan ketiga petinggi supporter Sriwijaya FC (Singa Mania, SMS, dan Simanis) untuk mendamaikan supporter Sriwijaya FC. Kapolresta Palembang juga memberikan peringatan keras dan ancaman akan mencabut izin bertanding Sriwijaya FC di Palembang.

Puncaknya perdamaian yang selama ini diimpikan oleh supporter Sriwijaya FC terjadi pada tanggal 17 Maret 2012 saat Sriwijaya FC bertanding melawan Persiram Raja Ampat dipertandingan terakhir Sriwijaya FC diputaran pertama ISL 2011/2012. Diawali dengan kelilingnya para petinggi supporter Sriwijaya FC untuk memberikan salam perdamaian, kemudian dirigen Beladas, Qusoy yang naik ke tribun utara Singa Mania untuk memberikan salam perdamaian. Hingga akhirnya saat usai pertandingan ribuan Singa Mania berhamburan ke tribun timur untuk memberikan salam perdamaian kepada Beladas dan saling bersahutan menyanyikan yel-yel perdamaian. Begitu mengharukan ketika pertikaian yang selama ini begitu kental berubah menjadi pekik perdamaian.

Kuning hijau sama saja..
Sama-sama dukung... Dukung Sriwijaya...

Disini Beladas.. di sana Singa..
Dimana-mana kita sodara..

Disini Singa.. disana Beladas..
Dimana-mana kita sodara..

Catatan ( 2 ): Beberapa Masalah Sriwijaya FC di Putaran 1

Saturday, March 24, 2012

Logo Sriwijaya FC (Internet)
Sriwijaya FC pada ISL 2011/2012 mengalami beberapa masalah yang cukup menyedot perhatian publik. Dimulai dari gonjang-ganjing mengenai kompetisi yang akan diikuti oleh Sriwijaya FC hingga ancaman deportasi kepada top skor Sriwijaya FC, Keith Jerome Gumbs.

Awalnya instruksi dari Dewan Pembina Sriwijaya FC, Alex Noerdin yang juga Gubernur Sumatera Selatan mengintruksikan kepada manajemen Sriwijaya FC agar mengikuti kompetisi resmi PSSI, dalam hal ini Indonesia Premier League (IPL).

Perdamaian Untuk Sekarang dan Selamanya

Monday, March 19, 2012

Perdamaian  (Sumatera Ekspres)
Setelah menutup putaran pertama Indonesia Super League (ISL) dengan kemenangan setelah mengalahkan Persiram Raja Ampat dengan skor 1-0 dan mempertahankan 100% kemenangan kandang, kebahagian publik Sriwijaya FC bertambah setelah akhirnya perdamaian antar supporter yang selama ini diimpikan akhirnay terwujud kembali setelah tiga kelompok supporter Sriwijaya FC, Sriwijaya Mania Sumsel (SMS), Sriwijaya Optimis Mandiri (Simanis), dan Singa Mania melakukan ikrar perdamaian di depan publik Sriwijaya FC sebelum dan sesudah pertandingan Sriwijaya FC vs Persiram (17/03).

Perdamaian antara supporter Sriwijaya FC difasilitasi oleh pihak Kepolisian dari Polresta Palembang. Setelah terjadi perdebatan alot dan diskusi akhirnya ketiga kelompok supporter dengan berbesar hati berdamai demi Sriwijaya FC, karena Kapolresta Palembang Kombes (Pol) Sabaruddin Ginting memberikan peringatan keras dan mengancam tidak memberikan izin pertandingan kepada Sriwijaya FC.

Ikrar Damai Supporter Sriwijaya FC

Friday, March 16, 2012

Supporter Sriwijaya FC (Sriwijaya Post)
Setelah sempat terjadi bentrokan antar supporter Sriwijaya FC dalam dua pertandingan kandang terakhir Sriwijaya FC ketika menjamu Persisam Samarinda dan Mitra Kukar FC. Pihak keamanan pertandingan, dalam hal ini Polresta Palembang memanggil manajemen Sriwijaya FC dan para petinggi tiga kelompok supporter Sriwijaya FC (Sriwijaya Mania Sumsel, Sriwijaya Mandiri Supporter, dan Singa Mania) pada hari Kamis kemarin (15/03).

Menurut Kapolresta Palembang, Kombes (Pol) Sabaruddin Ginting para ketua supporter diharapkan dapat memberi contoh dan memberikan peringatan tegas kepada para anggotanya agar bentrok antar supporter dapat dihindari karena rata-rata yang tertangkap ketika bentrok adalah anak-anak. Sedangkan untuk meminimalisir terjadinya bentrok akan diterjunkan 365 orang personel pengamanan, jumlah ini mengalahkan jumlah personel pengamanan sepakbola di luar negeri.

Opini : Pemain Juga Manusia

Monday, March 12, 2012

Rifky Mokodompit (www.okezone.com)
Sore itu 08 Maret 2012, tersaji pertandingan yang bisa dikatakan pertandingan “Super Big Match” antara Sriwijaya FC vs Mitra Kukar. Dimana hasil akhir skor 4-3 untuk kemenangan Sriwijaya FC. Disini saya akan membahas penampilan dari Rifky Mokodompit. Walaupun hasil akhir dimenangkan Sriwijaya FC, tidak banyak orang yang puas terhadap permainan kiper Sriwijaya FC Rifky Mokodompit, banyak yang menilai bahwa penampilan Rifky saat itu tidak baik atau bahkan sangat mengecewakan. Bagaimana tidak Rifky beberapa kali melakukan blunder yang mengakibatkan pemain Mitra Kukar berhasil menjebol gawang dari Sriwijaya FC. Lemahnya lini belakang Sriwijaya FC juga dinilai kurang maksimal, mereka sering kali salah koordinasi baik sesama pemain belakang maupun terhadap kiper.

Setelah pertandingan selesai pun, di media sosial seperti jejaring twitter banyak yang berkomentar tentang penampilan Rifky. Berbagai komentar pun menghampiri Rifky mulai dari komentar positif hingga komentar negatif. Banyak yang bilang Rifky main tidak bagus, ada yang bilang Rifky bodoh, dan kata-kata kasar lainnya. Menyikapi hal itu saya merasa perjuangan mereka (pemain. red) terutama perjuangan Rifky tidak dihargai sama sekali. Seharusnya mereka yang berkomentar itu bisa berpikir, kalo Rifky baru dimainkan 3 kali bagaimana mungkin dia bisa langsung sehebat Ferry Rotinsulu, Rifky juga manusia. Dia sama halnya dengan pemain lain, yang masih butuh jam terbang.

Sepakbola Ramah Anak

Monday, February 27, 2012

Supporter Cilik ( Facebook )
Begitu senang rasanya melihat ketika ada anak kecil yang menonton langsung pertandingan sepakbola ke stadion didampingi oleh orang tuanya. Terpancar aura bahagia bahagia anak-anak ketika dituntun atau bahkan digendong orang tuanya ketika memasuki arena Stadion. Dengan kostum kebanggaan tim yang didukung, semakin membuat mata yang memandang senang. Pernah terpikir mengapa ketika saya kecil dahulu tidak seperti mereka, menonton sepakbola bersama orang tua dengan memakai jersey tim kebanggaan. Sungguh iri rasanya kepada gerombolan anak kecil tersebut.

Tidak sampai disitu saja, selama pertandingan anak-anak yang terus diawasi oleh orang tuanya tersebut juga antusias dengan jalannya pertandingan. Terbukti dengan teriakan yang secara spontan keluar dari mulut mungil mereka ketika terjadi pelanggaran terhadap pemain tim idola mereka, atau ketika terjadi gol para supporter cilik tersebut meloncat kegirangan layaknya tingkah anak kecil.

Tidak jarang bahkan anak-anak kecil tersebut hafal dengan para idola mereka, seperti di Sriwijaya FC ada Ferry Rotinsulu dan Keith Jerome Gumbs yang begitu idolakan oleh pendukung cilik tersebut. Jika dibandingkan dengan saat saya masih kecil dahulu sangat jauh berbeda. Dahulu sepakbola biasanya diidentikkan dengan laki-laki dewasa, sehingga anak kecil sangat jarang diperbolehkan menonton sepakbola. Ini terjadi tidak lain karena identiknya sepakbola dengan kerusuhan dan kekerasan sehingga orang tua cenderung melarang keras anaknya untuk menyaksikan langsung ke stadion permainan paling populer sejagad raya ini.

Kini pola pikir masyarakat sepakbola telah sedikit demi sedikit bergeser, dari yang dulu memandang negatif sepakbola kini telah mulai berubah memandang sepakbola sebagai salah tontonan rekreatif di tengah tontonan yang kurang variatif dan membonsankan di negeri ini. Stadion kini menjadi salah satu tempat favorit keluarga menghabiskan waktu libur. Dahulu anak-anak kecil mengidolakan tokoh kartun atau pun super hero, kini telah bergeser dengan mengidolakan para pemain sepakbola baik pesepakbola lokal maupun internasional. Dulu ada Spiderman, kini idola mereka adalah Ferry Rotinsulu dan pemain lainnya.

Salut untuk para orang tua yang mengajak anaknya menonton langsung sepakbola ke stadion. Dengan gagahnya menggunakan jersey kebanggaan ditambah lilitan syal dileher yang nampak kebesaran tidak menghilangkan ciri khas anak-anak yang memang menggemaskan. Membuat stadion yang selama ini dianggap suram kini menjadi penuh keceriaan. Dulu stadion yang identik dengan orang dewasa, kini sudah mulai ramah terhadap anak. Semoga semakin banyak orang tua yang mengajak anaknya "rekreasi" ke stadion sebagai alternatif tempat menghabis waktu bersama keluarga.

Supporter Not Trouble Maker

Wednesday, February 15, 2012

Supporter Indonesia (www.vivanews.com)
Akhir-akhir sepakbola tanah air  sering terjadi bentrok baik antar pemain hingga melibatkan pemain kedua belas alias supporter tim yang berlaga di lapangan. Ntah kebetulan atau tidak sepakbola nasional yang tengah dirundung konflik “kepentingan” akhirnya mau tidak mau membuat supporter juga terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pemicu dari kericuhan yang terkadang berujung tindak anarkis supporter dilatar belakangi oleh beberapa sebab, dari yang paling sering dijadikan alibi yaitu kepemimpinan wasit yang dianggap berat sebelah hingga kesalah pahaman karena merasa klubnya dizalimi oleh pihak pembuat kebijakan/pemegang otoritas.

Yang terkadang semakin membuat provokasi dan suasana semakin panas tidak hanya berasal dari supporter yang terlibat kericuhan namun juga pihak pengaman (saya tidak menyebutkan pihak tertentu loh) di lapangan juga mempunyai “andil” sebagai pemicu kerusuhan.  Tindakan yang terkadang kasar dan berlebihan terhadap supporter bukannya membuat supporter berhenti melakukan kericuhan namun malah menambah amarah supporter. Yang sebelumnya hanya kericuhan kecil menjadi sebuah amuk massa besar yang berujung kerusuhan dan tindakan anarkis. Akhirnya supporter juga yang disalahkan, orang berpikiran negatif tentang supporter sepakbola, stigma negatif pun muncul hingga orang yang tidak tahu apa-apa dan hanya ingin mendukung tim pujaannya pun menjadi “korban” stigma masyarakat terhadap supporter bola. Kasihan!

Sebenarnya Supporter Indonesia Bersahaja

Minggu, 8 Januari 2012 (Terinspirasi tweet twitter @SuaraSupporter dan @AndiBachtiar)

Supporter Indonesia (www.vivanews.com)
Rasanya tidak akan habis untuk membahas sepakbola, ada saja yang menarik diperbincangkan. Mulai dari klub, pemain, stadion, kostum, hingga supporter. Sepp Blatter pernah mengatakan jika Indonesia adalah Brasil-nya Asia untuk supporter. Bahkan yang terbaru Coach Rahmad Darmawan mengatakan jika sekarang tidak ada yang dapat dibanggakan dari sepakbola Indonesia kecuali fanatisme supporternya. Dua pernyataan yang tentu saja cukup mewakili pengakuan kepada para supporter Indonesia yang terkenal fanatik.

Namun ternyata terkadang fanatisme supporter Indonesia dianggap sebelah mata. Masih banyak yang berpikir dan berkata jika supporter Indonesia tukang rusuh, hanya sekumpulan orang pengangguran yang suka buat onar dan cap negatifnya. Saya berani berkata pikiran dan pernyataan mereka SALAH!

Menurut saya ada dua yang membuat orang mempunyai persepsi negatif tentang supporter Indonesia. Yang pertama karena mereka belum pernah menonton langsung sepakbola ke stadion, jadi mereka belum mengetahui keadaan yang sebenarnya supporter Indonesia. Diibaratkan kalau minum kopi, mereka itu sebelum minum kopi sudah mengatakan jika kopi itu pahit, padahal belum tentu, mereka hanya melihat warnya saja. Dan yang kedua karena media di Indonesia yang terkadang terlalu berlebihan memberitakan kegiatan negatif supporter seperti tawuran dll. Sedangkan kegiatan postifnya hampir tidak tersentuh sama sekali.Good news is bad news.
 

© 2014 INFO SRIWIJAYA FC - All Rights Reserved | Supported by : Blogger | Presented by : Info Sriwijaya FC | Desain by : Andrean Wahyu Effendy